Langsung ke konten utama

Bitocracy Bab 11: Perdebatan Lingkungan — Benarkah Bitcoin Musuh Planet Ini?


11.1 Berapa Banyak Energi yang Sebenarnya Dikonsumsi Bitcoin?

Di bab-bab sebelumnya, kita sudah melihat bagaimana Bitcoin berinteraksi dengan sistem keuangan global — dari bank-bank besar yang mulai merangkulnya, sampai pemerintah yang berlomba membentuk regulasi.

Tapi ada satu tuduhan yang tidak bisa diabaikan.

Satu tuduhan yang paling sering muncul di berita, di Twitter, di diskusi lingkungan hidup — dan yang paling sering dipakai oleh mereka yang tidak suka Bitcoin sebagai argumen pamungkas:

"Bitcoin menghancurkan lingkungan."

Apakah itu benar? Apakah berlebihan? Apakah ada cerita yang lebih lengkap?

Di bab ini, gue tidak akan membela Bitcoin membabi buta.

Tapi gue juga tidak akan mengulang narasi yang tidak lengkap.

Mari kita mulai dari angkanya...

Tidak bisa dipungkiri, penambangan Bitcoin membutuhkan listrik dalam jumlah yang sangat besar.

Berdasarkan data Cambridge Centre for Alternative Finance (CCAF), konsumsi listrik penambangan Bitcoin mencapai sekitar 143,7 TWh per tahun pada data yang diakses September 2024 — lebih besar dari konsumsi listrik Pakistan (132,3 TWh) dan Ukraina (134,3 TWh) per tahun. TradingView

Chart konsumsi listrik Bitcoin. Source: TradingView.com

Untuk konteks: satu TWh adalah satu triliun watt-jam.

143 TWh bukan angka kecil.

Tapi juga bukan sebesar yang sering digambarkan media.

Angka ini punya rentang yang sangat lebar.

Rentang perkiraan dari CCEF untuk permintaan daya penambangan Bitcoin pada akhir Januari 2024 sangat lebar — dengan perkiraan titik tengah 170 TWh per tahun, batas bawah 80 TWh, dan batas atas 390 TWh. U.S. Energy Information Administration

Artinya, tidak ada yang tahu persis angkanya.

Ini bukan karena para peneliti tidak kompeten.

Ini karena penambangan Bitcoin dilakukan oleh ribuan pihak independen di seluruh dunia, tidak ada entitas tunggal yang melaporkan penggunaan listriknya secara terpusat.

Faktanya... 

Ketidakpastian ini sendiri sudah penting untuk diakui sebelum kita melanjutkan diskusi.

Mengapa penambangan Bitcoin butuh begitu banyak listrik?

Ini kembali ke mekanisme yang sudah kita bahas di Bab 2 — Proof of Work.

Untuk memvalidasi transaksi dan menambahkan blok baru ke blockchain, penambang harus berkompetisi memecahkan teka-teki matematika yang sangat rumit.

Ribuan komputer khusus bekerja keras 24 jam sehari, 365 hari setahun, hanya untuk bersaing dalam lomba ini.

Pemenangnya mendapat hadiah Bitcoin.

Yang kalah tidak dapat apa-apa — tapi listriknya sudah terpakai.

Ini adalah desain yang sengaja dibuat mahal secara komputasi — itulah yang membuat jaringan Bitcoin sangat sulit untuk diserang atau dimanipulasi.

Keamanannya berbanding lurus dengan energi yang dikonsumsinya.

Nah, pertanyaannya kemudian...

Apakah "mahal secara energi" otomatis berarti "buruk untuk lingkungan"?

Jawabannya: tidak otomatis.

Yang menentukan dampak lingkungan bukan seberapa banyak energi yang dipakai, tapi dari mana energi itu berasal.

Listrik dari panel surya yang menyerap sinar matahari tidak menghasilkan emisi karbon.

Listrik dari pembangkit batu bara menghasilkan emisi karbon yang sangat besar.

Dua operasi yang sama-sama memakai 100 watt listrik bisa punya dampak lingkungan yang sangat berbeda tergantung sumbernya.


11.2 Proof-of-Work vs. Proof-of-Stake

Perdebatan energi Bitcoin tidak bisa dipisahkan dari pertanyaan yang lebih teknis:

Apakah ada cara lain untuk mengamankan jaringan kripto yang tidak butuh energi sebesar ini?

Jawabannya: ada. Dan itu yang dilakukan oleh kripto lain, yaitu Proof of Stake (POS)

Proof of Work (PoW) adalah mekanisme yang dipakai Bitcoin.

Seperti yang sudah dijelaskan, validator bersaing memecahkan teka-teki matematika menggunakan komputer bertenaga tinggi. Siapa yang paling cepat, dia yang menang dan mendapat hadiah.

Keamanannya berasal dari fakta bahwa untuk menyerang jaringan, seseorang harus menguasai lebih dari setengah dari total kekuatan komputasi seluruh jaringan — yang butuh investasi hardware dan listrik yang sangat masif.

Sementara itu...

Proof of Stake (PoS) adalah mekanisme alternatif yang dipakai Ethereum sejak September 2022, serta banyak kripto lain.

Di PoS, validator tidak perlu komputer canggih atau listrik berlimpah.

Mereka cukup "mempertaruhkan" (staking) sejumlah koin sebagai jaminan. Semakin banyak koin yang dipertaruhkan, semakin besar peluang dipilih sebagai validator.

Keamanannya berasal dari risiko finansial: kalau validator bertindak curang, koin yang mereka pertaruhkan akan disita.

Perbedaan konsumsi energinya sangat dramatis.

Ketika Ethereum beralih dari PoW ke PoS pada September 2022 — sebuah peristiwa yang disebut "The Merge" — konsumsi energi Ethereum turun lebih dari 99,9%.

Bukan 10%. Bukan 50%.

99,9%.

Misalnya... 

kalau sebelumnya Ethereum butuh energi seperti negara Finlandia, setelah beralih ke PoS ia butuh energi seperti sebuah kota kecil.

Lalu kenapa Bitcoin tidak melakukan hal yang sama?

Ini adalah pertanyaan yang sangat wajar.

Dan jawabannya ada dua lapisan.

Pertama, alasan teknis dan filosofis.

Komunitas Bitcoin — baik developer maupun penambang — sangat berhati-hati terhadap perubahan mendasar pada protokol.

PoW bukan hanya cara menghemat energi. Ia adalah fondasi keamanan Bitcoin yang sudah terbukti selama lebih dari 16 tahun.

Keamanan Bitcoin berasal dari biaya nyata yang harus dikeluarkan untuk menyerangnya — dan biaya itu adalah listrik serta hardware.

PoS menggantinya dengan jaminan finansial. Ini punya masalah tersendiri: pihak yang punya banyak koin punya lebih banyak kekuasaan dalam jaringan, yang bisa mengarah pada sentralisasi.

Kedua, alasan politik.

Mengubah mekanisme konsensus Bitcoin membutuhkan persetujuan dari mayoritas penambang, node, dan pengembang.

Penambang punya investasi miliaran dolar dalam hardware khusus PoW.

Kalau Bitcoin beralih ke PoS, seluruh investasi itu menjadi tidak berguna.

Dan yang paling penting... 

Mayoritas komunitas Bitcoin percaya bahwa PoW adalah sumber keamanan terbaik yang ada, dan tidak mau menukarnya dengan efisiensi energi.

Pendukung Bitcoin sering menyebut konsumsi energi PoW bukan sebagai kelemahan, tapi sebagai fitur yang disengaja.

Logikanya: untuk menjadi "emas digital" yang menyimpan nilai triliunan dolar, Bitcoin harus punya lapisan keamanan yang setara dengan nilainya.

Emas fisik pun butuh energi sangat besar untuk ditambang dari perut bumi — mesin berat, bahan bakar, transportasi.

Tidak ada yang mempersoalkan penambangan emas sebagai "penghancur lingkungan" dengan intensitas yang sama seperti mempersoalkan Bitcoin.


11.3 Penambangan Bitcoin dan Energi Terbarukan

Setelah kita pahami mengapa Bitcoin butuh energi besar, pertanyaan yang lebih relevan adalah:

Dari mana listrik itu berasal?

Dan jawabannya lebih menggembirakan dari yang banyak orang kira.

Berdasarkan laporan analis ESG Bitcoin Daniel Batten menggunakan data model BEEST, penggunaan energi berkelanjutan dalam penambangan Bitcoin kini telah mencapai 54,5% — peningkatan signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya, dan merupakan angka tertinggi yang pernah tercatat.

Lebih dari separuh energi yang digunakan untuk menambang Bitcoin kini berasal dari sumber yang berkelanjutan.

Faktanya... ini bukan karena para penambang Bitcoin tiba-tiba menjadi aktivis lingkungan.

Ini karena energi terbarukan seringkali merupakan sumber listrik yang paling murah yang tersedia.

Mengapa penambang suka energi terbarukan?

Penambang Bitcoin adalah bisnis yang sangat sensitif terhadap biaya listrik.

Listrik bisa mencapai 60-70% dari total biaya operasional penambangan.

Jadi mereka pergi ke mana pun listrik paling murah berada.

Listrik paling murah di dunia biasanya berasal dari energi yang sedang berlebih—yaitu saat produksi tinggi, tetapi pemakaian rendah.

  • Tenaga air saat musim hujan, ketika pasokan melimpah
  • Tenaga surya di siang hari, saat produksi tinggi melebihi kebutuhan
  • Tenaga angin di malam hari, ketika penggunaan listrik sedang rendah

Misalnya... 

Perusahaan listrik terbesar Jepang, TEPCO, melalui anak perusahaannya Agile Energy X, memanfaatkan energi surya dan angin yang berlebih untuk penambangan Bitcoin. Presiden Agile Energy X menjelaskan: "Energi yang sebelumnya dianggap tidak berguna kini bisa diubah menjadi aset digital yang bernilai tinggi." Investing.com

Ini adalah narasi yang sangat berbeda dari "Bitcoin menghancurkan lingkungan."

Ini justru Bitcoin yang menyerap energi terbarukan yang terbuang percuma.

Ada satu fakta teknis tentang energi terbarukan yang jarang dibahas di luar kalangan ahli energi:

Energi terbarukan punya masalah besar bernama kelebihan produksi.

Pembangkit listrik tenaga surya menghasilkan paling banyak listrik di siang hari.

Tapi permintaan listrik tidak selalu puncak di siang hari.

Akibatnya, jutaan watt listrik bersih yang sudah diproduksi harus dibuang begitu saja karena tidak ada pembeli.

Ini bukan skenario hipotetis.

Data Cambridge menunjukkan bahwa pemborosan listrik selama proses transmisi dan distribusi di Amerika Serikat saja mencapai 206 TWh per tahun — cukup untuk memberi daya pada seluruh operasi penambangan Bitcoin di dunia sebanyak 1,4 kali. TradingView

Source: TradingView.com

Artinya: listrik yang terbuang percuma di AS saja sudah cukup untuk menjalankan seluruh jaringan Bitcoin — dua kali lipat lebih.

Penambang Bitcoin bisa menjadi "pembeli terakhir" yang fleksibel untuk energi terbarukan yang berlebih.

Berbeda dengan pabrik atau gedung yang punya jadwal operasi tetap, penambang Bitcoin bisa menyalakan atau mematikan operasinya dalam hitungan menit mengikuti ketersediaan listrik.

Ketika ada kelebihan listrik murah dari panel surya di siang hari, penambang menyala penuh.

Ketika listrik dibutuhkan untuk keperluan lain, penambang bisa dimatikan sementara.

Ini adalah sifat unik Bitcoin sebagai "beban listrik yang dapat disesuaikan" — sesuatu yang sangat dibutuhkan jaringan listrik modern.


11.4 Membandingkan Jejak Karbon Bitcoin dengan Perbankan Tradisional

Argumen paling sering diulang oleh kritikus Bitcoin adalah perbandingan ini:

"Satu transaksi Bitcoin menggunakan listrik sebesar ratusan ribu transaksi kartu kredit."

Ini angka yang terdengar mematikan.

Tapi ini adalah perbandingan yang tidak jujur.

Mengapa perbandingan itu menyesatkan?

Bayangkan gue mengatakan bahwa satu penerbangan pesawat Jakarta-Bali menggunakan bahan bakar sebesar jutaan perjalanan naik angkot.

Itu benar secara numerik.

Tapi tidak bermakna apa-apa, karena pesawat dan angkot adalah dua alat untuk dua tujuan yang sama sekali berbeda.

Bitcoin dan kartu kredit juga dua hal yang berbeda.

Kartu kredit adalah alat pembayaran ritel untuk jutaan transaksi kecil sehari-hari.

Ia bergantung pada seluruh infrastruktur sistem perbankan — ribuan kantor bank, jutaan mesin ATM, jaringan kartu, data center berlapis, birokrasi persetujuan kredit, sistem penagihan, dan seterusnya.

Bitcoin adalah jaringan penyelesaian akhir (final settlement) yang bekerja seperti sistem penyelesaian antar bank — setara dengan Fedwire atau SWIFT di tingkat paling mendasar.

Membandingkan energi per transaksi Bitcoin dengan per gesekan kartu kredit sama seperti membandingkan biaya pengiriman kapal kargo dengan biaya kirim paket lewat ojol.

Dan kalau kita bandingkan dengan sistem perbankan secara keseluruhan?

Berdasarkan perkiraan Galaxy Digital Mining atas penggunaan daya oleh pusat data bank, cabang bank, pusat data jaringan kartu, dan mesin ATM, total konsumsi energi sistem perbankan global diperkirakan 263,72 TWh per tahun — lebih dari dua kali lipat konsumsi Bitcoin.

Dan angka 263 TWh itu bahkan belum mencakup semua lapisan: belum termasuk energi untuk mencetak dan mengedarkan uang fisik, untuk membangun dan merawat gedung kantor bank, untuk perjalanan karyawan, untuk regulasi, pengawasan, dan seterusnya.

Dan yang paling penting...

Perbankan tradisional tidak pernah melaporkan data konsumsi energinya secara transparan.

Industri perbankan tidak secara langsung melaporkan data konsumsi listrik. Di sisi lain, konsumsi energi Bitcoin sangat transparan dan mudah dilacak secara real-time menggunakan alat seperti Cambridge Bitcoin Electricity Consumption Index.

Bitcoin dikritik justru karena data konsumsinya sangat transparan.

Sementara sistem perbankan yang konsumsi energinya lebih besar justru tidak pernah dikritik dengan intensitas yang sama — karena datanya tidak tersedia.

Untuk perbandingan yang lebih jujur, kita perlu membandingkan Bitcoin dengan industri-industri lain yang menggunakan listrik dalam jumlah besar.

Jika dibandingkan dengan industri kimia dunia yang mengonsumsi sekitar 240 TWh per tahun, atau pendingin udara rumah tangga yang mencapai 300 TWh per tahun, konsumsi Bitcoin sekitar 143 TWh masih lebih kecil dari keduanya. Bahkan, penambangan emas menggunakan sekitar 131 TWh per tahun — tidak jauh berbeda dengan Bitcoin. TradingView

Konsumsi listrik per tahun dari berbagai macam industri (source: TradingView.com)

Apakah ada yang menyarankan agar manusia berhenti memakai AC atau berhenti menambang emas demi lingkungan?

Tentu saja tidak.

Standar yang berbeda diterapkan untuk Bitcoin — dan pertanyaan yang jujur adalah: mengapa?


11.5 Apakah Penggunaan Energi Ini Bisa Dibenarkan?

Setelah melihat semua data, kita sampai di pertanyaan filosofis yang sebenarnya paling penting:

Seandainya Bitcoin memang mengonsumsi energi sebesar itu — apakah itu bisa dibenarkan?

Ini adalah pertanyaan yang tidak punya jawaban objektif tunggal.

Tapi mari kita pikirkan bersama.

Setiap Hal Bernilai Butuh Energi

Listrik untuk menyalakan lampu di rumah lo — apakah itu bisa dibenarkan? Tentu saja.

Listrik untuk menjalankan data center Netflix agar lo bisa nonton film di malam hari — apakah itu bisa dibenarkan? Kebanyakan orang bilang ya.

Listrik untuk mengadakan konser musik besar dengan ribuan penonton dan panggung berlampuan ribuan watt — apakah itu bisa dibenarkan? Bagi mereka yang menikmatinya, ya.

Setiap aktivitas manusia yang punya nilai — hiburan, keamanan, kenyamanan, komunikasi — menggunakan energi.

Pertanyaannya selalu: apakah nilai yang dihasilkan sebanding dengan energi yang dikonsumsi?

Untuk jutaan orang di Venezuela yang menggunakan Bitcoin untuk melindungi tabungan mereka dari hiperinflasi — nilai itu sangat nyata.

Untuk TKI yang mengirim uang ke keluarga di kampung tanpa dipotong biaya selangit — nilai itu sangat nyata.

Untuk ratusan juta orang di seluruh dunia yang tidak punya akses ke sistem perbankan formal — nilai itu sangat nyata.

Untuk negara-negara seperti El Salvador yang mencoba menggunakan Bitcoin sebagai alat inklusi keuangan — nilai itu sangat nyata.

Untuk investor di seluruh dunia, termasuk 22 juta lebih investor kripto Indonesia, yang mencari aset yang tidak bisa dimanipulasi oleh kebijakan moneter manapun — nilai itu sangat nyata.

Dan yang paling penting...

Nilai ini tidak perlu menunggu teknologi baru untuk ada.

Bitcoin sudah ada. Sudah berjalan 16 tahun. Sudah melayani jutaan orang sekarang.

Tapi...

Gue gak mau menutup sub-bab ini tanpa jujur soal sisi gelapnya.

Pertama, tidak semua penambangan Bitcoin menggunakan energi bersih. Masih ada operasi yang bergantung pada batu bara, terutama di wilayah-wilayah tertentu yang listriknya murah karena berbahan bakar fosil.

Kedua, pertumbuhan jaringan Bitcoin berarti konsumsi energinya juga akan terus bertumbuh — kecuali porsi energi terbarukan tumbuh lebih cepat.

Ketiga, limbah elektronik dari hardware penambang yang usang juga merupakan masalah nyata yang perlu diselesaikan oleh industri.


Jadi, bagaimana seharusnya kita memandang ini?

Gue rasa cara yang paling jujur adalah:

Bitcoin memang menggunakan energi yang signifikan. Ini adalah fakta.

Narasi bahwa Bitcoin "menghancurkan planet" adalah penyederhanaan yang tidak akurat. Ini juga fakta.

Dampak lingkungan Bitcoin terus membaik seiring meningkatnya penggunaan energi terbarukan. Ini fakta yang terus berkembang.

Dan pada akhirnya, pertanyaan soal apakah penggunaan energi Bitcoin "layak" adalah pertanyaan nilai — bukan pertanyaan ilmiah — yang tidak bisa dijawab dengan satu angka saja.

Komunitas Bitcoin bukan diam menghadapi tekanan ini.

Ada gerakan nyata di kalangan penambang untuk memprioritaskan energi terbarukan.

Ada riset yang terus berkembang tentang bagaimana penambangan Bitcoin bisa menstabilkan jaringan listrik dan menyerap kelebihan energi hijau.

Bahkan perusahaan listrik negara Jepang TEPCO bereksperimen menggunakan kelebihan energi terbarukan dari pembangkit surya dan angin untuk menambang Bitcoin — mengubah yang tadinya energi terbuang menjadi aset digital bernilai. Traders Union

Ini bukan solusi sempurna.

Tapi ini adalah arah yang tepat.

Satu analogi terakhir yang mungkin berguna:

Mobil bermesin bensin merusak lingkungan.

Tapi tidak ada yang menyarankan agar seluruh manusia berhenti berkendara hari ini.

Yang terjadi adalah transisi bertahap ke kendaraan listrik, efisiensi bahan bakar yang terus meningkat, dan sumber energi yang semakin bersih.

Bitcoin juga sedang menjalani transisi serupa.

Bukan dari PoW ke PoS — itu pilihan Bitcoin yang tidak akan berubah dalam waktu dekat.

Tapi dari sumber energi yang kotor ke sumber energi yang semakin bersih.

Dan selama transisi itu berlangsung, 22 juta lebih investor kripto Indonesia — dan ratusan juta pengguna di seluruh dunia — punya hak untuk mempertimbangkan semua sisi dari pertanyaan ini sebelum mengambil keputusan.

Di bab berikutnya, kita akan bahas kontroversi yang tidak kalah panas: Bitcoin dan kejahatan. Benarkah Bitcoin adalah alat favorit penjahat, teroris, dan pencuci uang? Atau ini juga narasi yang perlu diteliti lebih dalam?


NEXT CHAPTER:

PREV CHAPTER: Bitcoin dan Sistem Keuangan Tradisional

BOOK: Bitocracy

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitocracy Bab 1: Kelahiran Bitcoin — Ketika Dunia Runtuh dan Seseorang Membangun Solusinya

1.1 Hari Ketika Sistem Memperlihatkan Wajah Aslinya Sebelum kita ngomongin Bitcoin, gue mau ngajak lo mundur dulu ke sebuah momen — momen di mana sistem keuangan dunia, yang selama ini lo percaya, tiba-tiba memperlihatkan wajah aslinya. 15 September 2008.  Hari itu, jutaan orang di seluruh dunia menyalakan TV mereka dan menyaksikan sesuatu yang gak pernah mereka bayangkan bakal terjadi: Lehman Brothers, salah satu bank investasi terbesar di Amerika Serikat dengan aset senilai $639 miliar, resmi mengajukan kebangkrutan.  Ini menjadi kebangkrutan korporasi terbesar dalam sejarah Amerika Serikat — dengan utang mencapai $613 miliar — yang memaksa ribuan karyawan kehilangan pekerjaan sekaligus menyeret perekonomian global yang sudah goyah ke dalam jurang yang jauh lebih dalam. NPR Kantor pusat Lehman Brothers di New York pada 15 September 2008, mengajukan permohonan kebangkrutan (Mark Lennihan/AP) Dalam hitungan jam, kepanikan menyebar ke seluruh penjuru dunia.  Kejatuhan ...

Bitocracy Bab 3: Bitcoin vs. Uang Konvensional — Dua Dunia yang Bertabrakan

3.1 Sejarah Singkat Uang: Dari Barter ke Kertas Di dua bab sebelumnya, kita sudah ngomongin mengapa Bitcoin lahir dan bagaimana cara kerjanya secara teknis.  Tapi sebelum kita bisa benar-benar menilai apakah Bitcoin adalah sesuatu yang revolusioner atau sekadar hype yang mahal, kita perlu mundur dulu dan bertanya satu pertanyaan yang kelihatannya sederhana tapi ternyata sangat dalam: Sebenarnya, apa itu uang? Bukan uang dalam artian "duit yang ada di dalam dompet."  Maksud gue, uang sebagai sebuah konsep.  Kenapa kita percaya bahwa selembar kertas bergambar Soekarno-Hatta itu punya nilai?  Siapa yang memutuskan?  Dan kalau jawabannya bisa berubah sepanjang sejarah — dan ternyata memang bisa — maka pertanyaan berikutnya menjadi sangat relevan: siapa bilang sistem yang kita pakai sekarang adalah yang gak akan pernah digantikan? Mari kita mulai dari awal. Sebelum ada uang, manusia bertransaksi dengan sistem barter.  Lo punya ayam, gue punya beras, kita ...

Bitocracy Bab 2: Cara Kerja Bitcoin — Mesin di Balik Uang

2.1 Apa Itu Blockchain? Di bab sebelumnya, kita sudah ngomongin mengapa Bitcoin lahir — kemarahan terhadap sistem yang rusak, krisis 2008, skandal Bank Century, dan impian sekelompok kriptografer tentang uang yang benar-benar bebas.  Tapi mengetahui motivasinya saja belum cukup.  Sekarang kita masuk ke pertanyaan yang lebih menantang:  bagaimana sebenarnya cara kerjanya? Karena kalau Bitcoin mau jadi pengganti ratusan tahun infrastruktur perbankan, ia harus berdiri di atas pondasi yang jauh lebih kuat dari sekadar niat baik dan semangat revolusi. Jawabannya dimulai dari satu kata yang mungkin sudah sering lo dengar, tapi hampir pasti masih kabur di kepala:  Blockchain . Kata ini sudah jadi salah satu kata paling sering dipakai sekaligus paling sering disalahpahami.  Dipakai startup biar kedengaran canggih.  Dipakai politisi yang nggak ngerti tapi pengen kedengeran melek teknologi.  Dan dipakai orang-orang di warung kopi yang baru beli Bitcoin tig...