Bitocracy Bab 10: Bitcoin dan Sistem Keuangan Tradisional — Pertemuan Dua Dunia yang Pernah Saling Memusuhi
10.1 Bank-Bank yang Mengadopsi Infrastruktur Bitcoin
Ada sebuah ironi besar dalam sejarah singkat Bitcoin.
Aset yang lahir sebagai protes terhadap sistem perbankan tradisional — yang blok genesisnya sendiri menyematkan kutipan soal bailout bank — kini mulai dipeluk oleh institusi-institusi keuangan paling mapan di dunia.
Dan tidak tanggung-tanggung.
Ini bukan sekadar bank-bank kecil yang coba-coba.
Ini adalah JPMorgan. Goldman Sachs. Morgan Stanley. Citigroup. BNY Mellon.
Selama bertahun-tahun, Jamie Dimon — CEO JPMorgan Chase, bank terbesar Amerika — adalah kritikus paling vokal terhadap Bitcoin.
Ia menyebut Bitcoin sebagai "scam."
Ia menyebut Bitcoin sebagai "pet rock.", sebuah hinaan terhadap Bitcoin yang menyamakannya dengan batu biasa tanpa nilai.
Ia bahkan berjanji pada CNBC bahwa itu adalah "terakhir kalinya saya bicara tentang hal ini."
Lalu datanglah 2025.
Pada Mei 2025, di hadapan para investor di acara tahunan bank, Dimon mengumumkan: "Kami akan mengizinkan kalian membelinya. Kami tidak akan menyimpannya dalam kustodi. Kami akan memasukkannya dalam laporan untuk para klien." CNBC
Perubahan yang luar biasa.
Dari "Bitcoin adalah scam" ke "klien kami bisa beli Bitcoin melalui JPMorgan" — dalam perjalanan kurang dari satu dekade.
Dan JPMorgan bukan satu-satunya.
JPMorgan Chase sedang melakukan uji coba layanan yang memungkinkan klien meminjam uang dengan jaminan Bitcoin dan Ethereum mereka. Program ini dijalankan melalui divisi blockchain mereka, Onyx, yang sudah membangun sistem untuk mengelola aset digital dan jaminan berbasis blockchain. CCN
Misalnya...
Lo punya Bitcoin senilai Rp 5 miliar.
Alih-alih menjual Bitcoin itu untuk butuh uang tunai, lo bisa menaruhnya sebagai jaminan dan meminjam uang dari bank.
Bitcoin lo tetap ada, nilainya tetap berpotensi naik.
Dan lo dapat likuiditas yang lo butuhkan.
Ini adalah produk yang tidak pernah ada beberapa tahun lalu.
Sejak 2020 hingga 2024, Citigroup, Goldman Sachs, dan JP Morgan Chase aktif melakukan investasi dan kemitraan dalam teknologi blockchain dan aset digital. Citi dan Goldman Sachs masing-masing memimpin dengan 18 transaksi investasi di startup blockchain, diikuti JP Morgan dengan 15 transaksi.
Ini bukan eksperimen kecil-kecilan.
Ini adalah strategi bisnis yang serius, dengan miliaran dolar yang dipertaruhkan.
Mengapa Bank-Bank Ini Berubah Pikiran?
Ada tiga alasan utama.
Pertama, tekanan klien.
Ketika klien kaya mereka mulai bertanya "saya mau eksposur ke Bitcoin, bisa lewat lo?", bank tidak bisa terus berkata tidak tanpa kehilangan nasabah ke platform lain.
Kedua, ETF membuka pintu regulasi.
Persetujuan ETF Bitcoin pada 2024 membuktikan bahwa banyak modal sudah menunggu untuk masuk ke Bitcoin begitu tersedia produk yang terregulasi. Goldman Sachs sudah memiliki trading desk untuk derivatif kripto. JPMorgan sudah merencanakan layanan Bitcoin sebagai jaminan pinjaman untuk klien institusional.
Ketiga, perubahan regulasi menghilangkan hambatan teknis.
Perubahan dalam pengawasan bank, pencabutan aturan akuntansi kustodian yang ketat, dan persetujuan piagam bank aset digital baru secara kolektif telah menurunkan hambatan bagi lembaga keuangan tradisional untuk terlibat dengan kripto.
Dan yang paling penting...
Bank-bank ini tidak masuk karena tiba-tiba percaya pada filosofi Satoshi Nakamoto.
Mereka masuk karena ada uang di sana.
Dan itulah cara kapitalisme bekerja — mengikuti aliran modal, bukan idealisme.
Di Indonesia, kita belum melihat bank-bank besar BUMN seperti BRI, BNI, atau Mandiri secara aktif menawarkan layanan Bitcoin kepada nasabah.
Tapi tren global ini pada akhirnya akan memengaruhi kita juga.
Ketika bank-bank terbesar dunia sudah menyediakan infrastruktur Bitcoin, tekanan pada bank-bank Indonesia untuk mengikuti hanya akan semakin besar — seiring regulasi OJK yang terus berkembang.
10.2 Bitcoin dan Mata Uang Digital Bank Sentral (CBDC)
Di tengah bank-bank komersial yang mulai merangkul Bitcoin, ada satu respons besar dari institusi keuangan yang paling berkuasa di dunia:
Bank sentral-bank sentral mulai menerbitkan mata uang digital mereka sendiri.
Ini disebut CBDC — Central Bank Digital Currency.
Dan ini adalah salah satu perkembangan paling penting dalam sejarah keuangan global modern.
Sebelum jauh, gue perlu tekankan satu hal yang sering bikin bingung:
CBDC dan Bitcoin adalah dua hal yang fundamentally berbeda.
Mereka sama-sama digital. Tapi bukan berarti hal lainnya pun ikutan sama.
Bitcoin: terdesentralisasi, tidak ada otoritas yang mengendalikan, suplai terbatas, bisa dipakai secara anonim, tidak bisa dicensored.
CBDC: diterbitkan dan dikendalikan penuh oleh bank sentral, suplai bisa diatur oleh otoritas, setiap transaksi bisa dipantau secara real-time, bisa diprogram dengan batasan-batasan tertentu.
Faktanya...
Bank Indonesia secara eksplisit menyatakan bahwa Rupiah Digital bukan aset kripto. Rupiah Digital adalah CBDC yang berkedudukan sebagai mata uang NKRI, nilainya tidak berfluktuasi terhadap Rupiah, dan diterbitkan langsung oleh Bank Indonesia sebagai otoritas moneter. Bank Indonesia
Indonesia tidak ketinggalan dari tren global CBDC ini.
Bank Indonesia memiliki peta jalan tiga tahap untuk Rupiah Digital. Tahap pertama fokus pada penerbitan dan transfer antar bank (wholesale) — Proof of Concept-nya selesai dan laporannya dipublikasikan pada 13 Desember 2024. Tahap kedua diperkirakan berlangsung 2027-2028, memperluas ke operasi moneter dan pasar keuangan. Tahap ketiga adalah integrasi penuh untuk penggunaan publik, direncanakan pada 2029-2030.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan di FEKDI 2025 bahwa Rupiah Digital sedang dalam tahap kedua eksperimentasi, dengan fokus pada pengembangan securities ledger — sebuah infrastruktur yang memungkinkan transaksi surat berharga secara digital dan lebih efisien. Antara News
Ini berita yang baik untuk sistem keuangan Indonesia.
Bayangkan pembayaran antar bank yang selesai dalam detik, bukan hari.
Settlement transaksi surat berharga yang tidak lagi butuh dua hari kerja.
Distribusi bantuan sosial pemerintah yang lebih akurat dan langsung — tidak bisa dicuri di tengah jalan karena setiap rupiah digital bisa dilacak.
Tapi CBDC punya sisi gelap.
Di sinilah Bitcoin dan CBDC berpisah jalan secara fundamental.
CBDC adalah uang yang bisa "diprogram."
Secara teknis, bank sentral bisa menetapkan aturan: uang ini hanya boleh dipakai untuk beli sembako, bukan rokok. Uang ini hanya boleh dibelanjakan sebelum tanggal tertentu. Uang ini tidak berlaku di luar provinsi tertentu.
Apakah itu akan diterapkan?
Di negara-negara demokratis dengan akuntabilitas publik yang kuat, kemungkinannya kecil.
Tapi potensi teknisnya tetap ada.
Dan yang paling penting...
Trump mengeluarkan perintah eksekutif pada Januari 2025 yang menghentikan semua pengembangan retail CBDC di Amerika Serikat, dengan alasan privasi. Indonesiana
Amerika Serikat — negara yang paling kuat mendorong adopsi Bitcoin institusional — justru menolak CBDC ritel karena khawatir pemerintah akan punya terlalu banyak kendali atas keuangan warganya.
Ini adalah paradoks yang sangat menarik: negara yang paling kapitalis sekalipun melihat CBDC sebagai ancaman terhadap kebebasan finansial warganya.
Keduanya adalah respons terhadap masalah yang sama — sistem keuangan yang terlalu lambat, terlalu mahal, dan terlalu eksklusif.
Tapi jawabannya berbeda 180 derajat.
CBDC menjawab: "Kami akan buat sistem yang lebih efisien — tapi tetap di bawah kendali kami."
Bitcoin menjawab: "Kami akan buat sistem yang tidak bisa dikendalikan siapapun."
Tidak ada yang salah secara mutlak.
Keduanya akan terus berdampingan dan bersaing untuk ruang yang sama.
10.3 DeFi vs. Pendekatan Bitcoin terhadap Keuangan
Sebelum membahas apakah Bitcoin dan keuangan tradisional bisa berdampingan, ada satu pemain lagi yang perlu kita kenal:
DeFi — Decentralized Finance.
Dan penting untuk memahami bahwa Bitcoin dan DeFi adalah dua hal yang berbeda, meski sering disebut dalam napas yang sama.
DeFi adalah sistem keuangan yang berjalan di atas teknologi blockchain dan menyerupai produk keuangan tradisional, tapi dengan karakter baru: tidak terpusat dan tidak mengharuskan kepercayaan pada satu otoritas. Layanan DeFi meliputi pinjaman, tabungan berbunga, perdagangan aset, dan asuransi — semuanya berjalan otomatis melalui smart contract.
Misalnya...
Lo mau pinjam uang.
Di bank biasa, lo harus ke bank, bawa berkas, tunggu analisis kredit, bisa ditolak, dan bayar bunga ke bank.
Di platform DeFi seperti Aave atau Compound, lo bisa pinjam dalam hitungan menit dengan jaminan aset kripto lo, bunga ditentukan oleh smart contract, tidak ada manusia yang memutuskan, tidak ada yang bisa menolak lo.
Banyak yang mengira asal mula DeFi berawal dari Bitcoin. Memang Bitcoin menggunakan sistem terdesentralisasi, tapi ekosistemnya tidak memungkinkan protokol DeFi. Blockchain Ethereum, dengan smart contract-nya sejak 2017, yang menjadi dasar bagi DeFi.
Bitcoin sejak awal dirancang dengan filosofi yang sangat spesifik:
Sederhana. Aman. Tidak berubah.
Bitcoin tidak ingin jadi platform untuk membangun ribuan aplikasi keuangan di atasnya.
Bitcoin ingin jadi uang yang sempurna — yang tidak bisa dimanipulasi, tidak bisa disensor, dan tidak bergantung pada kepercayaan siapapun.
DeFi, sebaliknya, mengambil filosofi berbeda: "Mari bangun sistem keuangan baru yang lebih terbuka di atas teknologi blockchain."
Keduanya punya kelebihan dan kelemahan masing-masing.
Bitcoin: sangat aman, sangat terdesentralisasi, sangat sederhana — tapi terbatas dalam fungsi.
DeFi: sangat fleksibel, sangat inovatif, penuh potensi — tapi juga penuh risiko. Smart contract bisa punya bug. Protokol bisa diretas. Kerugian dari hack DeFi sudah mencapai miliaran dolar.
Faktanya...
Beberapa layanan DeFi sebenarnya menyerupai lembaga keuangan dan seharusnya terdaftar dan diawasi. Tapi karena bersifat terdesentralisasi, layanan ini sering beroperasi tanpa izin — ini membuat regulasinya sangat sulit.
Menariknya, batas antara Bitcoin dan DeFi mulai kabur.
Para developer Bitcoin mulai membuat DeFi di dalam jaringan Bitcoin. Tapi pembangunan DeFi di Bitcoin tidak semudah di Ethereum karena adanya batasan keamanan yang ketat.
Lightning Network sudah membuka jalan untuk transaksi cepat.
Taproot upgrade membuka kemungkinan smart contract yang lebih kompleks di atas jaringan Bitcoin.
Dan melalui wrapped Bitcoin (wBTC), Bitcoin sudah bisa "berjalan" di atas jaringan Ethereum dan ikut dalam ekosistem DeFi.
Dan yang paling penting...
Apakah DeFi adalah ancaman atau pelengkap bagi Bitcoin?
Mayoritas komunitas Bitcoin memandangnya sebagai pelengkap.
Bitcoin tetap menjadi pondasi — aset digital paling aman dan paling terdesentralisasi.
DeFi membangun fitur-fitur finansial di atasnya atau di sebelahnya.
Seperti internet yang menjadi pondasi untuk semua aplikasi digital — Bitcoin bisa menjadi lapisan dasar untuk ekosistem keuangan yang lebih luas.
10.4 Bisakah Bitcoin dan Keuangan Tradisional Hidup Berdampingan?
Ini adalah pertanyaan yang paling banyak orang tanyakan.
Dan jawabannya sudah mulai terlihat jelas dari bukti-bukti yang ada di seluruh bab ini.
Ya. Bahkan tidak hanya bisa — prosesnya sudah mulai dilakukan.
Tapi "berdampingan" di sini bukan berarti tanpa tegangan.
Sejak disetujui pada 2024, ETF Bitcoin telah tumbuh menjadi sekitar $115 miliar aset pada akhir 2025. Partisipasi hedge fund juga meningkat, dengan mayoritas sekarang memegang kripto dan merencanakan peningkatan alokasi lebih lanjut. Liputan6
BlackRock, manajer aset terbesar dunia, menjual ETF Bitcoin.
JPMorgan, bank terbesar Amerika, mengizinkan klien beli Bitcoin.
Goldman Sachs memiliki trading desk untuk derivatif kripto.
BNY Mellon, bank tertua Amerika, menyediakan layanan kustodi aset digital.
Charles Schwab, platform brokerage terbesar Amerika, baru-baru ini meluncurkan layanan spot trading Bitcoin dan Ethereum langsung untuk penggunanya.
Faktanya...
Fenomena yang terjadi justru adalah konvergensi dua arah. Bukan hanya bank tradisional yang masuk ke kripto, tapi platform kripto seperti Coinbase dan Kraken juga mulai menyediakan layanan perdagangan saham. Batas antara keduanya semakin kabur. TokoNews
Bank-bank masuk ke kripto.
Exchange kripto masuk ke saham.
Dua dunia yang dulu saling memusuhi kini sedang bersatu.
Namun ketegangan tetap saja ada!
Pertama, tegangan filosofis.
Bitcoin lahir karena tidak percaya pada bank.
Ketika JPMorgan menjual Bitcoin, apakah itu berarti Bitcoin sudah "kalah" pada sistem yang ingin ia gantikan?
Atau apakah itu berarti Bitcoin sudah berhasil memaksa sistem yang ada untuk mengakuinya?
Ini adalah perdebatan yang terus berlangsung di komunitas Bitcoin.
Kedua, risiko sentralisasi melalui pintu belakang.
Ketika mayoritas Bitcoin dipegang melalui ETF di BlackRock dan Fidelity, investor biasa tidak memegang Bitcoin secara langsung.
Mereka memegang klaim atas Bitcoin yang dipegang BlackRock.
Misalnya...
Bayangkan suatu saat pemerintah meminta BlackRock untuk membekukan atau menyita Bitcoin kliennya.
Di Bitcoin yang lo pegang sendiri, tidak ada yang bisa melakukan itu.
Di ETF BlackRock, secara teknis ada potensi itu terjadi.
Ini bukan skenario paranoid — ini adalah risiko nyata yang didiskusikan serius oleh para analis.
Ketiga, Bitcoin sebagai instrumen spekulasi vs Bitcoin sebagai uang.
Ketika JPMorgan dan Goldman Sachs masuk, mereka membawa budaya trading Wall Street yang sangat berbeda dari idealisme awal Bitcoin.
Dalam budaya ini, Bitcoin adalah aset untuk diperdagangkan, bukan uang untuk digunakan.
Volatilitas menjadi fitur, bukan bug — karena volatilitas menghasilkan keuntungan bagi trader.
Ini bisa bertentangan dengan misi awal Bitcoin sebagai sistem pembayaran global.
Berdasarkan semua yang terjadi, gue melihat masa depan yang paling mungkin bukan "Bitcoin menghancurkan bank" atau "bank menghancurkan Bitcoin."
Yang paling mungkin adalah...
Koeksistensi yang kompleks dan saling memengaruhi.
Bitcoin akan tetap menjadi lapisan dasar yang terdesentralisasi — store of value dan jaringan pembayaran yang tidak bisa disensor oleh siapapun.
Di atas dan di sekeliling itu, akan ada lapisan-lapisan layanan keuangan yang menghubungkannya dengan dunia tradisional — ETF, layanan bank, produk derivatif, dan sebagainya.
Kita bisa melihat koeksistensi antara bank konvensional dan sistem keuangan terdesentralisasi di masa mendatang.
Apa yang Ini Artinya bagi Lo Sebagai Investor Indonesia?
Konvergensi ini membawa dua implikasi praktis yang langsung relevan.
Pertama, Bitcoin semakin mudah diakses dan semakin legitimate.
Ketika bank-bank tradisional dunia menawarkan Bitcoin sebagai produk investasi, stigma "Bitcoin itu hanya untuk spekulan dan penjahat" semakin sulit dipertahankan.
Ini adalah kabar baik untuk legitimasi jangka panjang aset yang lo pegang.
Kedua, lo punya lebih banyak pilihan cara memegang Bitcoin.
Melalui ETF jika lo mau kemudahan tapi mau tetap terkoneksi dengan sistem keuangan formal.
Melalui exchange lokal terdaftar OJK jika lo mau langsung pegang.
Secara self-custody kalau lo mau kendali penuh atas aset lo.
Tidak ada satu cara yang "benar" untuk semua orang.
Yang penting adalah lo memahami trade-off dari setiap pilihan.
Dan ada satu hal yang tetap tidak berubah, apapun yang terjadi di dunia keuangan tradisional:
Selama blockchain Bitcoin terus berjalan — dan sudah berjalan tanpa henti selama 16 tahun — lo selalu punya pilihan untuk memegang Bitcoin langsung, di luar sistem perbankan manapun, dengan kunci yang hanya lo yang pegang.
Itulah jaminan yang tidak bisa diberikan oleh produk keuangan manapun di dunia.
Di bab berikutnya, kita akan masuk ke salah satu kontroversi paling panas seputar Bitcoin — pertanyaan yang tidak bisa dihindari siapapun yang peduli dengan lingkungan hidup:
Berapa banyak energi yang dibutuhkan Bitcoin? Dan benarkah Bitcoin adalah bencana bagi planet kita?
NEXT CHAPTER:
PREV CHAPTER: Bitcoin dan Regulasi
BOOK: Bitocracy

Komentar
Posting Komentar