Langsung ke konten utama

Bitocracy Bab 13: Ketimpangan Sosial dan Ekonomi — Untuk Siapa Bitcoin Sebenarnya?


13.1 Siapa yang Sebenarnya Memiliki Bitcoin? Masalah Konsentrasi Kekayaan

Ada sebuah ironi yang cukup berat untuk diabaikan.

Bitcoin lahir dari krisis keuangan 2008 — saat bank-bank besar dapat suntikan dana dari pemerintah sementara rakyat biasa menanggung akibatnya. Satoshi Nakamoto menyematkan pesan soal bailout bank di blok pertama Bitcoin bukan tanpa maksud.

Tujuannya jelas: menciptakan sistem keuangan yang gak bisa dikuasai segelintir orang.

Nah, pertanyaannya...

Apakah kenyataannya memang begitu?

Siapa yang Pegang Paling Banyak?

Berdasarkan data analitik blockchain Arkham pada 2026, Satoshi Nakamoto masih jadi pemegang Bitcoin terbesar di dunia. Mengacu pada pola penambangan awal yang dikenal sebagai Patoshi Pattern, Satoshi diperkirakan menguasai sekitar 1,096 juta BTC — dan dompet-dompet itu gak pernah aktif selama bertahun-tahun.

Lebih dari sejuta Bitcoin yang gak pernah bergerak.

Kalau dinilai pada harga ATH Oktober 2025 di angka $126.000, itu setara sekitar 75 miliar dolar. Atau lebih dari Rp 1.200 triliun.

Dimiliki satu entitas yang gak jelas siapanya, dan gak pernah disentuh.

Di bawah Satoshi, nama-nama yang mendominasi daftar adalah institusi dan perusahaan besar.

Strategy — perusahaan yang dipimpin Michael Saylor — sudah mengumpulkan sekitar 597.325 Bitcoin dengan total pengeluaran lebih dari 42 miliar dolar. Ini menjadikan Strategy sebagai pemegang Bitcoin publik terbesar di dunia, dengan selisih yang sangat jauh dari pesaing terdekatnya.

Dalam kategori negara, pemerintah Amerika Serikat tercatat sebagai pemegang terbesar dengan sekitar 328.000 BTC, sebagian besar berasal dari penyitaan kasus kriminal dan operasi penegakan hukum.

Faktanya... 

Daftar pemegang Bitcoin terbesar di dunia terisi oleh: pencipta anonim yang gak aktif, korporasi dengan kekayaan triliunan rupiah, bursa kripto raksasa, dana kelolaan institusional, dan pemerintah negara adidaya.

Bukan persis gambaran "kebebasan finansial untuk rakyat kecil" yang ada di benak banyak orang.

Seberapa Terkonsentrasi Sebenarnya?

Ada dua cara membaca data kepemilikan Bitcoin, dan keduanya menghasilkan kesimpulan yang berbeda.

Versi yang bikin khawatir:

Berdasarkan data Glassnode, kelompok whale — pemegang dengan lebih dari 1.000 BTC — memegang 28,16% dari total pasokan Bitcoin yang beredar, setara dengan 5,4 juta lebih BTC.

Source: Glassnode

28% dikuasai segelintir whale.

Di sistem keuangan mana pun, konsentrasi kayak gini wajar jadi sorotan.

Versi yang lebih melegakan:

Data yang sama juga menunjukkan bahwa distribusi BTC dari waktu ke waktu semakin menyebar dan gak lagi terkonsentrasi di entitas tertentu saja. Ini membantah pernyataan bahwa kepemilikan BTC sangat tersentralisasi dan cuma dikontrol para whale. Coinvestasi

Grafik populasi dan jumlah kepemilikan BTC per klasifikasi (Source: Coinvestasi)

Setiap halving, setiap kenaikan harga besar, membawa gelombang baru investor ritel yang masuk dan memecah konsentrasi kepemilikan lebih jauh.

Tapi Ada yang Perlu Kita Akui

Konsentrasi kepemilikan Bitcoin — walau membaik — harus tetap jadi pertanyaan.

Bayangkan ada 21 juta hektar tanah di dunia. Kalau satu pihak sudah lebih dulu menguasai jutaan hektar sebelum orang lain tahu tanah itu berharga, apakah narasi bahwa "semua orang punya kesempatan yang sama" itu bisa dibilang adil?

Penambang awal Bitcoin — yang aktif di 2009-2013 sebelum dunia sadar Bitcoin ada — mengakumulasi BTC saat harganya masih beberapa sen atau beberapa dolar.

Siapa mereka? Umumnya: programmer laki-laki dari Amerika Utara dan Eropa, yang punya akses ke komputer bagus, internet cepat, dan informasi soal teknologi baru.

Satu Bitcoin yang mereka tambang dengan modal listrik $1 sekarang bernilai lebih dari $100.000.

Orang-orang yang baru tahu Bitcoin setelah harganya meledak di media adalah mereka yang masuk ketika harganya sudah jauh lebih mahal.

Dan yang paling penting... 

Ini bukan kecurangan. Tapi ini juga bukan persaingan yang setara.


13.2 Bitcoin Maksimalisme dan Toksisitas Budayanya

Kalau lo pernah coba diskusi soal kripto di Twitter atau platform mana pun, ada kemungkinan besar lo pernah bersentuhan dengan fenomena yang dikenal sebagai Bitcoin Maksimalisme.

Dan pengalaman itu mungkin gak selalu enak buat lo lalui.

Apa Itu Bitcoin Maksimalisme?

Bitcoin Maksimalisme adalah keyakinan bahwa Bitcoin — dan cuma Bitcoin — adalah satu-satunya aset kripto yang sah dan bermakna. Semua kripto lain dianggap penipuan, proyek gak bernilai, atau ancaman terhadap ekosistem.

Dalam batas yang wajar, ini adalah posisi filosofis yang masih bisa diperdebatkan.

Tapi ketika sudah berlebihan, ini berubah menjadi budaya yang eksklusif, agresif, dan memusuhi siapa pun yang berbeda pandangan.

Seorang akademisi dari University College Dublin yang juga menulis kolom di CoinDesk menyebut Bitcoin Maksimalisme sudah begitu jauh dari nalar sehingga ia menamainya "budaya Chernobyl" — bencana yang meracuni ekosistem di sekitarnya. CoinDesk

Ungkapan ‘budaya Chernobyl’ memang terdengar keras.

Namun, istilah itu gak muncul begitu saja.

Di berbagai platform, para Bitcoiner maksimalis dikenal karena menyerang siapapun yang mempertanyakan Bitcoin — bahkan pertanyaan yang sangat wajar sekalipun. Menyebut altcoin apapun sebagai "sampah." Mengolok-olok orang yang kehilangan uang. Menyingkirkan pengembang yang coba mengusulkan perbaikan teknis.

Zooko Wilcox, pendiri Zcash yang juga salah satu tokoh kriptografi paling senior di dunia kripto, menyatakan bahwa permusuhan komunitas Bitcoin adalah alasan utama atas pandangannya yang tetap pesimis soal masa depan Bitcoin. "Ini mungkin alasan tunggal terbesar saya bearish terhadap Bitcoin," tulisnya — setelah timnya yang mengusulkan alat keamanan baru justru dihajar habis-habisan oleh komunitas Bitcoiner. Yellow

Bayangkan seseorang yang sudah berkecimpung dalam dunia kriptografi jauh sebelum Bitcoin lahir, yang membangun sistem privasi berbasis kriptografi dari nol, yang punya keahlian teknis jauh di atas rata-rata — tapi tetap diperlakukan sebagai musuh hanya karena ia bukan "orang Bitcoin murni."

Ini bukan debat teknis yang sehat.

Ini mentalitas kelompok tertutup yang memusuhi orang luar.

Tapi Ada Sisi yang Perlu Dipahami

Gue harus jujur: gak semua Bitcoiner adalah maksimalis yang toksik.

Sejak peluncuran ETF Bitcoin spot di AS dan lonjakan harga yang menyertainya, budaya di sekitar Bitcoin mengalami pergeseran yang cukup nyata. Suara-suara yang lebih moderat mulai lebih banyak terdengar, dan nada keras yang dulu mendominasi mulai melunak.

Ada komunitas Bitcoiner yang sehat, terbuka, dan mau diskusi secara substantif.

Ada juga alasan kenapa maksimalisme muncul — yaitu sebagai reaksi terhadap ribuan proyek kripto penipuan yang memang sudah rugikan banyak orang.

Kalau lo pernah lihat teman kehilangan uang karena rug pull altcoin, wajar kalau lo jadi curiga terhadap semua kripto selain Bitcoin.

Tapi ada beda antara curiga yang beralasan dengan agresif yang memusuhi.

Dan budaya yang memusuhi justru menghalangi Bitcoin untuk mencapai potensinya sebagai alat finansial yang inklusif.

Orang-orang yang paling butuh Bitcoin — mereka yang gak punya akses ke sistem keuangan formal, yang hidup di negara dengan mata uang gak stabil — gak akan tertarik bergabung dengan komunitas yang terasa seperti kubu perang.


13.3 Kesenjangan Gender dan Ras dalam Adopsi Kripto

Bitcoin sering dipromosikan sebagai teknologi yang "gak mendiskriminasi" — siapapun bisa pakai, tanpa perlu nama, tanpa perlu rekening bank, tanpa perlu izin dari siapapun.

Secara teknis, ini bener.

Tapi secara sosial, ada kesenjangan nyata yang perlu kita akui.

Kalau lo perhatikan komunitas kripto — dari konferensi Bitcoin di Miami hingga grup Telegram lokal di Indonesia — satu hal yang mencolok: laki-lakinya jauh lebih banyak.

Ini bukan kebetulan.

Ini adalah cerminan dari kesenjangan yang lebih luas dalam akses ke teknologi dan literasi keuangan digital.

Di Indonesia, riset menunjukkan bahwa 45 persen laki-laki siap secara digital — punya smartphone dan bisa pakai untuk unduh aplikasi atau jelajahi internet — sementara cuma 38 persen perempuan yang punya kesiapan yang sama. Kesenjangan ini bahkan jauh lebih besar, mencapai 38 poin persentase, untuk penggunaan ponsel tingkat lanjut seperti transaksi finansial. Poverty Action Lab

7 poin persentase mungkin kedengarannya kecil.

Tapi dalam konteks populasi Indonesia yang lebih dari 270 juta orang, itu artinya puluhan juta perempuan yang secara digital tertinggal dari laki-laki.

Dan kalau perempuan sudah tertinggal dalam adopsi teknologi digital secara umum, mereka otomatis lebih jauh tertinggal dalam adopsi aset kripto yang butuh pemahaman teknis lebih tinggi.

Faktanya... 

Sekitar 60% dari 64,2 juta UMKM di Indonesia dikelola dan dimiliki perempuan. Tapi perempuan masih tertinggal dibanding laki-laki dalam mengadopsi teknologi digital, dan perempuan pelaku usaha mendapat penghasilan 22% lebih rendah dari laki-laki. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

Ini paradoks yang menyedihkan.

Perempuan Indonesia adalah tulang punggung ekonomi di akar rumput — mengelola lebih dari separuh UMKM nasional.

Tapi mereka adalah kelompok yang paling mungkin diuntungkan oleh akses ke instrumen keuangan alternatif seperti Bitcoin — sekaligus kelompok yang paling susah mengaksesnya karena kesenjangan digital.

Kenapa Ini Penting untuk Bitcoin?

Ada argumen yang sering dipakai pendukung Bitcoin: bahwa Bitcoin bisa jadi alat pemberdayaan finansial bagi mereka yang gak terlayani sistem keuangan formal.

Perempuan berpenghasilan rendah yang gak punya rekening bank.

Pedagang kecil yang gak bisa akses kredit karena gak punya agunan.

Pekerja migran yang butuh kirim uang tanpa potongan selangit.

Semua argumen itu masuk akal secara teori.

Tapi teori gak berguna kalau akses ke teknologinya sendiri sudah gak merata dari awal.

Bitcoin yang demokratis cuma jadi demokratis beneran kalau kesenjangan digital di hulunya diselesaikan lebih dulu.

Ada satu lapisan lagi dari masalah ini yang jarang dibahas: siapa yang membangun Bitcoin?

Dunia pengembang perangkat lunak secara global sangat didominasi laki-laki.

Komunitas pengembang Bitcoin bahkan lebih homogen dari rata-rata industri teknologi.

Ini bukan soal siapa yang "lebih pintar" atau "lebih layak."

Ini soal siapa yang tumbuh dengan akses ke pendidikan teknologi yang baik, siapa yang merasa disambut di ruang-ruang diskusi teknis, dan siapa yang punya jaringan untuk bergabung ke proyek-proyek yang relevan.

Ketika pengembangan sebuah teknologi dikuasai oleh demografik yang sempit, teknologi itu cenderung memecahkan masalah yang dirasakan oleh demografik tersebut — dan melewatkan masalah yang dirasakan kelompok lain.


13.4 Apakah Bitcoin Memberdayakan Si Miskin atau Melayani Si Kaya?

Ini pertanyaan yang paling menusuk, paling jujur, dan paling sering dihindari komunitas Bitcoin.

Mari kita hadapi dengan kepala dingin.

Ada bukti nyata bahwa Bitcoin kasih nilai kepada orang-orang yang paling butuh alternatif finansial.

TKI kita yang kerja di Arab Saudi atau Hong Kong — mereka menghadapi biaya remitansi 3-8% setiap kali kirim uang pulang. Untuk penghasilan $500 sebulan, itu artinya $15-40 yang dipotong begitu saja, setiap bulan, seumur kontrak kerja.

Bitcoin via Lightning Network bisa pangkas biaya itu mendekati nol.

Di Venezuela, Argentina, Zimbabwe — negara-negara dengan inflasi yang menggerogoti tabungan hidup orang — Bitcoin bukan spekulasi. Bitcoin adalah pelampung.

Orang yang gak punya rekening bank tapi punya smartphone bisa simpan nilai dalam Bitcoin tanpa perlu izin dari bank manapun.

Misalnya... 

Bayangkan seorang penjual pecel di pasar tradisional di Lombok.

Ia gak punya rekening bank karena gak pernah bisa memenuhi persyaratan administrasinya.

Ia gak bisa kirim uang ke anaknya yang kuliah di Surabaya tanpa melalui agen yang ambil komisi.

Tapi kalau ia punya HP dan koneksi internet, ia bisa pakai Bitcoin.

Tanpa formulir. Tanpa agunan. Tanpa antrean.

Ini adalah kasus nyata yang terjadi di banyak negara berkembang.

Tapi ada kenyataan lain yang gak bisa diabaikan begitu saja.

Siapa yang paling banyak mengakumulasi Bitcoin ketika harganya naik?

Institusi keuangan Wall Street yang bisa beli ratusan juta dolar dalam satu transaksi.

Perusahaan publik dengan akses ke pasar modal yang bisa terus terbitkan saham untuk beli lebih banyak Bitcoin.

Pemerintah negara kaya yang akumulasi Bitcoin dari penyitaan kriminal.

Para early adopter yang masuk ketika Bitcoin masih semurah kacang goreng.

Sementara siapa yang sering masuk di puncak, ikut-ikutan euforia media, lalu kena beli mahal dan jual murah?

Investor ritel kecil — termasuk banyak orang Indonesia yang baru kenal kripto dari postingan viral di media sosial.

Inilah yang paling sulit diterima sekaligus paling jujur untuk diakui:

Bitcoin gak memihak siapapun.

Protokol Bitcoin gak bisa bedain antara korban bencana yang butuh bantuan dengan manajer hedge fund yang lagi numpuk kekayaan.

Ia gak punya program afirmasi. Ia gak punya redistribusi.

Dalam sistem yang sudah gak setara, alat yang "netral" cenderung menguntungkan mereka yang sudah punya lebih banyak modal, lebih banyak informasi, dan lebih banyak akses.

Orang kaya yang beli Bitcoin awal dan tahan bertahun-tahun jadi makin kaya.

Orang yang masuk terlambat karena baru tahu Bitcoin, beli di puncak, dan panik jual di bawah — mereka yang sering rugi.

Ini bukan bug Bitcoin. Ini sifat alami dari aset apapun yang nilainya naik — dari tanah, saham, sampai emas.

Mungkin pertanyaannya bukan 

"apakah Bitcoin memberdayakan si miskin atau melayani si kaya?"

Karena jawabannya adalah: 

bisa keduanya, tergantung konteks dan cara menggunakannya.

Pertanyaan yang lebih tepat adalah:

Apa yang perlu kita lakukan agar Bitcoin lebih banyak memberdayakan daripada memperparah?

Dan jawabannya mengarah ke beberapa hal yang konkret.

Pertama, literasi keuangan dan digital yang lebih merata.

Bitcoin yang paling bermanfaat bagi orang berpenghasilan rendah adalah Bitcoin yang dipakai untuk remitansi murah, perlindungan dari inflasi, dan inklusi keuangan — bukan Bitcoin yang dibeli sebagai spekulasi di puncak harga.

Tapi untuk bisa pakai Bitcoin dengan cara yang benar, orang butuh pemahaman dasar soal cara kerjanya, risikonya, dan cara mengamankannya.

Di Indonesia, dengan 22 juta lebih investor kripto, masih banyak yang masuk karena FOMO dan keluar karena panik.

Literasi yang baik adalah senjata terbaik melawan siklus "beli puncak, jual bawah" yang rugikan investor kecil.

Kedua, infrastruktur yang lebih gampang diakses.

Lightning Network, yang memungkinkan transaksi Bitcoin dengan biaya hampir nol, masih butuh waktu untuk benar-benar mudah dipakai orang awam.

Selama pakai Bitcoin masih butuh banyak langkah teknis yang membingungkan, manfaatnya akan tetap terpusat di tangan mereka yang sudah melek teknologi.

Ketiga, komunitas yang lebih inklusif.

Kalau komunitas Bitcoin masih terasa kayak klub eksklusif yang memusuhi orang baru, perempuan, dan mereka yang gak punya latar belakang teknis — potensi Bitcoin sebagai alat inklusi finansial gak akan pernah tercapai sepenuhnya.

Singkatnya...

Bitcoin bukan jimat keadilan sosial yang otomatis menyeimbangkan kekayaan di dunia.

Tapi Bitcoin juga bukan sekadar mainan orang kaya yang gak ada gunanya bagi rakyat biasa.

Kenyataannya ada di antara keduanya — dan lebih dekat ke mana tergantung pada siapa yang punya akses, siapa yang teredukasi, dan bagaimana ekosistemnya berkembang.

Yang melegakan, data menunjukkan bahwa distribusi Bitcoin terus menyebar dari waktu ke waktu — semakin banyak pemegang kecil yang masuk, semakin terurai konsentrasi yang ada di awal.

Tapi "terus menyebar" gak berarti "sudah merata."

Dan "bisa diakses siapapun" secara teknis gak berarti "bisa diakses siapapun" dalam kenyataan.

Pertanyaan soal ketimpangan dalam ekosistem Bitcoin bukan pertanyaan yang perlu dijawab dengan membela atau menyerang Bitcoin.

Ini pertanyaan yang perlu dijawab dengan jujur, agar siapapun yang mau terlibat — termasuk lo — tahu persis apa yang sedang lo masuki, peluang apa yang ada, dan jebakan apa yang perlu dihindari.


NEXT CHAPTER:

PREV CHAPTER: Bitcoin dan Kejahatan

BOOK: Bitocracy

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitocracy Bab 1: Kelahiran Bitcoin — Ketika Dunia Runtuh dan Seseorang Membangun Solusinya

1.1 Hari Ketika Sistem Memperlihatkan Wajah Aslinya Sebelum kita ngomongin Bitcoin, gue mau ngajak lo mundur dulu ke sebuah momen — momen di mana sistem keuangan dunia, yang selama ini lo percaya, tiba-tiba memperlihatkan wajah aslinya. 15 September 2008.  Hari itu, jutaan orang di seluruh dunia menyalakan TV mereka dan menyaksikan sesuatu yang gak pernah mereka bayangkan bakal terjadi: Lehman Brothers, salah satu bank investasi terbesar di Amerika Serikat dengan aset senilai $639 miliar, resmi mengajukan kebangkrutan.  Ini menjadi kebangkrutan korporasi terbesar dalam sejarah Amerika Serikat — dengan utang mencapai $613 miliar — yang memaksa ribuan karyawan kehilangan pekerjaan sekaligus menyeret perekonomian global yang sudah goyah ke dalam jurang yang jauh lebih dalam. NPR Kantor pusat Lehman Brothers di New York pada 15 September 2008, mengajukan permohonan kebangkrutan (Mark Lennihan/AP) Dalam hitungan jam, kepanikan menyebar ke seluruh penjuru dunia.  Kejatuhan ...

Bitocracy Bab 3: Bitcoin vs. Uang Konvensional — Dua Dunia yang Bertabrakan

3.1 Sejarah Singkat Uang: Dari Barter ke Kertas Di dua bab sebelumnya, kita sudah ngomongin mengapa Bitcoin lahir dan bagaimana cara kerjanya secara teknis.  Tapi sebelum kita bisa benar-benar menilai apakah Bitcoin adalah sesuatu yang revolusioner atau sekadar hype yang mahal, kita perlu mundur dulu dan bertanya satu pertanyaan yang kelihatannya sederhana tapi ternyata sangat dalam: Sebenarnya, apa itu uang? Bukan uang dalam artian "duit yang ada di dalam dompet."  Maksud gue, uang sebagai sebuah konsep.  Kenapa kita percaya bahwa selembar kertas bergambar Soekarno-Hatta itu punya nilai?  Siapa yang memutuskan?  Dan kalau jawabannya bisa berubah sepanjang sejarah — dan ternyata memang bisa — maka pertanyaan berikutnya menjadi sangat relevan: siapa bilang sistem yang kita pakai sekarang adalah yang gak akan pernah digantikan? Mari kita mulai dari awal. Sebelum ada uang, manusia bertransaksi dengan sistem barter.  Lo punya ayam, gue punya beras, kita ...

Bitocracy Bab 2: Cara Kerja Bitcoin — Mesin di Balik Uang

2.1 Apa Itu Blockchain? Di bab sebelumnya, kita sudah ngomongin mengapa Bitcoin lahir — kemarahan terhadap sistem yang rusak, krisis 2008, skandal Bank Century, dan impian sekelompok kriptografer tentang uang yang benar-benar bebas.  Tapi mengetahui motivasinya saja belum cukup.  Sekarang kita masuk ke pertanyaan yang lebih menantang:  bagaimana sebenarnya cara kerjanya? Karena kalau Bitcoin mau jadi pengganti ratusan tahun infrastruktur perbankan, ia harus berdiri di atas pondasi yang jauh lebih kuat dari sekadar niat baik dan semangat revolusi. Jawabannya dimulai dari satu kata yang mungkin sudah sering lo dengar, tapi hampir pasti masih kabur di kepala:  Blockchain . Kata ini sudah jadi salah satu kata paling sering dipakai sekaligus paling sering disalahpahami.  Dipakai startup biar kedengaran canggih.  Dipakai politisi yang nggak ngerti tapi pengen kedengeran melek teknologi.  Dan dipakai orang-orang di warung kopi yang baru beli Bitcoin tig...