Langsung ke konten utama

Bitocracy Bab 2: Cara Kerja Bitcoin — Mesin di Balik Uang


2.1 Apa Itu Blockchain?

Di bab sebelumnya, kita sudah ngomongin mengapa Bitcoin dibuat — kemarahan terhadap sistem yang rusak, krisis 2008, skandal Bank Century, dan impian sekelompok kriptografer tentang uang yang benar-benar bebas. 

Tapi mengetahui motivasinya saja belum cukup. 

Sekarang kita masuk ke pertanyaan yang lebih susah: bagaimana sebenarnya cara kerjanya?

Karena kalau Bitcoin mau menggantikan ratusan tahun infrastruktur perbankan, ia harus dibangun di atas sesuatu yang jauh lebih kokoh dari sekadar niat baik dan semangat revolusi.

Jawabannya dimulai dari satu kata yang mungkin sudah sering lo dengar, tapi hampir pasti masih samar di kepala lo: 

Blockchain.

Kata ini sudah jadi salah satu kata paling overused sekaligus paling disalahpahami di dunia teknologi dan keuangan. 

Ia dipakai oleh startup untuk kedengarannya keren, oleh politisi yang gak paham tapi pengen terlihat melek teknologi, dan oleh orang-orang di tongkrongan yang baru beli Bitcoin seminggu lalu buat pamer. 

Tapi blockchain sebenarnya adalah konsep teknis yang sangat spesifik — dan begitu lo paham dengan benar, seluruh logika Bitcoin langsung klik di kepala lo.

Oke, kita mulai dari nol. 

Bayangkan lo dan sekelompok teman punya sebuah buku catatan bersama. 

Setiap kali salah satu dari kalian mengirim atau menerima uang, kalian semua mencatatnya — setiap orang menulis entri yang sama di salinan buku catatan masing-masing. 

Gak ada yang memiliki buku catatan itu secara eksklusif. 

Gak ada yang bisa menghapus catatan tanpa semua orang lain menyadarinya. 

Kalau ada satu orang yang mencoba mengubah catatannya sendiri untuk memberi dirinya uang tambahan, semua buku catatan milik orang lain akan gak cocok — dan versi yang curang itu langsung ditolak. 

Itulah, dalam esensinya, yang dimaksud dengan blockchain.

Blockchain adalah buku besar terdistribusi — daftar catatan yang terus berkembang yang disebut blok, yang terhubung satu sama lain secara aman melalui hash kriptografis. 

Setiap blok mengandung hash kriptografis dari blok sebelumnya, timestamp, dan data transaksi. 

Karena setiap blok berisi informasi tentang blok sebelumnya, mereka membentuk sebuah rantai, dan begitu tercatat, data dalam blok manapun gak bisa diubah secara retroaktif tanpa mengubah semua blok berikutnya dan mendapatkan persetujuan jaringan. Wikipedia

Sekarang, apa itu hash

Di sinilah bagian yang keren. 

Hash adalah semacam sidik jari digital dari sebuah data — hasil dari fungsi matematika yang mengambil input apapun dan mengubahnya menjadi serangkaian karakter dengan panjang tetap. 

Bahkan perubahan terkecil pada input akan menghasilkan output hash yang sama sekali berbeda. GeeksforGeeks

Coba lo bayangkan begini: 

kalau lo masukkan kata "halo" ke dalam fungsi hash, lo dapat output tertentu. (misalnya: 0x123abc)

Tapi kalau lo ganti jadi "Halo" — hanya mengkapitalkan huruf H-nya saja — outputnya akan sama sekali berbeda, gak ada kemiripannya sama sekali dengan output pertama. (misalnya: 0x456def)

Sifat inilah yang membuat data di blockchain praktis gak bisa diutak-atik secara diam-diam.

Hash kriptografis membuat perubahan pada satu blok manapun hampir mustahil dilakukan tanpa mengubah semua blok berikutnya — memastikan integritas seluruh proses. IBM 

Jadi kalau seseorang ingin memalsukan transaksi Bitcoin dari tiga tahun lalu, mereka gak bisa mengubah satu blok saja. 

Mereka harus mengubah (tentunya dihitung) hash untuk blok tersebut, lalu semua blok yang tercipta setelahnya, dan itu harus lebih cepat dari seluruh jaringan yang terus bertambah di blok baru. 

Sayangnya, blok baru yang datang itu jauh lebih cepat (per 10 menit sekali) dibandingkan dengan usaha kita untuk mengubah blok yang ingin kita utak-atik, sehingga secara praktik gak mungkin dilakukan - makanya, blockchain secara teori gak mungkin buat diretas atau di-hack. 

Yang menarik...

Ide tentang rantai blok yang diamankan secara kriptografis sebenarnya bukan murni temuan Satoshi. 

Konsep ini sudah dideskripsikan pada 1991 oleh dua peneliti bernama Stuart Haber dan W. Scott Stornetta, yang ingin membangun sistem di mana timestamp dokumen gak bisa dimanipulasi. Wikipedia 

Satoshi bukan penemu blockchain dari nol — yang Satoshi lakukan adalah mengambil konsep itu dan menggunakannya sebagai fondasi sistem moneter terdesentralisasi. 

Itulah loncatan yang mengubah segalanya.

Kalau lo masih bingung... 

Coba pakai analogi ini yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: bayangkan blockchain seperti buku KIR kendaraan yang gak bisa dipalsukan. 

Setiap kendaraan punya riwayat pemeriksaan yang tercatat, dan setiap catatan terhubung dengan catatan sebelumnya. 

Kalau ada yang mencoba memalsukan satu halaman, seluruh buku gak akan cocok — dan semua orang yang punya salinan buku itu langsung tahu ada yang curang.

Bedanya? 

Di blockchain Bitcoin, yang punya salinan buku itu bukan satu kantor pemerintah — melainkan ribuan komputer di seluruh dunia secara bersamaan.


2.2 Penambangan, Node, dan Jaringan Terdesentralisasi

Sekarang lo sudah paham apa itu blockchain. 

Tapi muncul pertanyaan yang sangat wajar: kalau gak ada bank, gak ada perusahaan, gak ada server pusat — siapa yang menjaga semua catatan ini dan memastikan gak ada yang curang?

Jawabannya: semua orang, secara bersamaan, setiap saat.

Bitcoin berjalan di atas jaringan global komputer yang disebut node

Setiap node menyimpan salinan lengkap dari seluruh blockchain Bitcoin — setiap transaksi yang pernah terjadi sejak 3 Januari 2009. 

Per akhir 2025, lebih dari 23.000 node publik beroperasi di seluruh dunia, dengan perkiraan total node yang melebihi 100.000. 

Mereka membentuk sistem saraf Bitcoin — setiap transaksi yang lo kirim melewati mesin-mesin ini sebelum menjadi permanen. Simple Mining

Siapapun bisa menjalankan node

Gak perlu izin. 

Gak perlu mendaftar ke mana-mana. 

Lo tinggal unduh perangkat lunak Bitcoin, sinkronkan dengan jaringan, dan komputer lo menjadi bagian dari infrastruktur. 

Ini adalah arti sesungguhnya dari kata "terdesentralisasi" — bukan hanya bahwa gak ada satu perusahaan yang memiliki Bitcoin, tapi bahwa jaringannya secara fisik tersebar di ribuan mesin independen yang dijalankan oleh orang-orang di negara yang berbeda, dengan motivasi yang berbeda, di bawah yurisdiksi hukum yang berbeda. 

Redundansi dari proses ini dengan jumlah peserta yang gak terbatas membuat secara praktis mustahil bagi seorang pelaku jahat untuk mengendalikan seenggaknya 51% node Bitcoin guna mengubah blockchain. Bitcoin Magazine Pro

Di dalam jaringan ini...

Ada kategori peserta khusus yang disebut miner atau penambang. 

Merekalah yang mengerjakan tugas komputasi berat untuk benar-benar membuat blok baru dan menambahkannya ke rantai. 

Sebagai imbalan atas kerja ini, mereka mendapatkan hadiah berupa Bitcoin yang baru diciptakan. 

Inilah satu-satunya cara Bitcoin baru masuk ke peredaran — bukan dicetak oleh pemerintah, bukan dikeluarkan oleh perusahaan, tapi dihasilkan melalui usaha komputasi yang nyata.

Nah...

Di sini banyak orang mulai bingung soal perbedaan antara node dan miner

Cara paling mudah memahami perbedaannya: miner adalah jenis node khusus yang punya kemampuan untuk menambahkan blok ke rantai — dan mereka melakukan pekerjaan yang diperlukan untuk menemukan blok transaksi berikutnya. BitPay 

Node biasa memvalidasi, tapi gak membuat blok baru. 

Miner melakukan keduanya.

Begini alur prosesnya secara sederhana:

Transaksi-transaksi yang belum diproses mengambang di sebuah "kolam bersama" yang disebut mempool. - Kita transfer Bitcoin ke seseorang gak bakalan langsung nyampe ke orangnya, tapi bakalan dikumpulin dulu di mempool.

Para penambang mengambil sekumpulan transaksi dari kolam itu dan mengemasnya menjadi sebuah kandidat blok, yang mana harus dipecahkan menggunakan teka-teki matematika. 

Kemudian — dan ini bagian yang krusial — mereka bersaing untuk memecahkan sebuah teka-teki matematika sebelum penambang lain berhasil melakukannya. 

Penambang pertama yang memecahkan teka-teki itu berhak menambahkan blok baru ke rantai (block ke chain, makanya disebut sebagai blockchain) dan dikasih hadiah berupa Bitcoin - makanya disebut nambang. 

Sisa jaringan (node) bertugas buat memverifikasi. Dan jika valid, maka transaksi akan diteruskan ke penerima.

Selanjutnya, kembali ke tahap awal, menerima blok baru, dan persaingan nambang dimulai lagi untuk blok berikutnya - dan begitu seterusnya.

Nah, blok-blok ini berhasil ditambahkan ke chain terjadi setiap 10 menit sekali.

Ritme sepuluh menit ini bukan dipilih secara sembarangan. 

Ia dikalibrasi dengan cermat oleh Satoshi untuk memberi jaringan cukup waktu menyebarkan blok baru ke seluruh dunia sebelum blok berikutnya ditemukan. 

Jaringan juga secara otomatis menyesuaikan tingkat kesulitan teka-teki setiap dua minggu sekali untuk menjaga ritme sepuluh menit ini tetap stabil, gak peduli berapa banyak penambang yang bergabung atau keluar dari jaringan.


2.3 Kunci Publik, Kunci Privat, Dompet, dan Alamat

Memahami blockchain dan penambangan memberitahu lo bagaimana transaksi Bitcoin dicatat

Tapi ada pertanyaan yang sama pentingnya: bagaimana jaringan tahu bahwa lo yang berhak mengirim Bitcoin tertentu? 

Kalau gak ada bank dan gak ada otoritas pusat untuk memverifikasi identitas, apa yang mencegah orang lain mengklaim koin lo?

Jawabannya adalah kriptografi — tepatnya sebuah sistem yang disebut public-key cryptography atau kriptografi kunci publik, yang elegan, sangat kuat secara matematis, dan sudah digunakan untuk melindungi informasi sensitif jauh sebelum Bitcoin ada.

Begini ide intinya. 

Bitcoin dibangun di atas kriptografi kunci publik, sebuah sistem yang menggunakan pasangan kunci: kunci publik yang diketahui secara umum dan penting untuk identifikasi, serta kunci privat yang dijaga rahasia dan digunakan untuk autentikasi. Blockchain 

Kita ibaratkan kunci publik itu nomor rekening bank, dan kunci privat itu nomor PIN kita. 

Dua kunci ini terhubung secara matematis — satu diturunkan dari yang lain — tapi hubungan itu hanya bekerja satu arah. 

Lo bisa tahu kunci publik dari kunci privat, tapi gak bakalan bisa tahu kunci privat dari kunci publik. 

Hubungan satu arah inilah yang menjadi gembok yang mengamankan setiap Bitcoin yang pernah dikirim.

Alhasil, meskipun lo ngasih tahu kunci publik (nomor rekening) ke orang lain, maka orang tersebut gak bakalan bisa tahu kunci privat (nomor PIN) lo - kecuali lo yang dengan begonya ngasih tahu PIN tersebut ke orang lain.

Analogi terbaiknya: bayangkan sebuah kotak pos. 

Kunci privat seperti kunci master yang membuka kotak pos, memberikan akses eksklusif dan kendali penuh atas isinya. Kunci publik seperti kotak pos itu sendiri yang terkunci — siapapun bisa melihatnya dan memasukkan surat ke dalamnya, tapi hanya pemegang kunci master yang bisa membukanya. Strike

Ketika seseorang ingin mengirim Bitcoin ke lo, mereka mengirimkannya ke kunci publik lo — atau lebih tepatnya, ke alamat dompet lo yang merupakan versi kunci publik yang lebih pendek dan lebih ramah dibaca manusia. 

Ketika lo ingin membelanjakan Bitcoin itu, lo menandatangani transaksi dengan kunci privat lo, membuktikan kepada seluruh jaringan bahwa lo adalah pemilik sah — tanpa pernah mengungkapkan kunci itu sendiri.

Ibaratnya, lo ngasih nomor rekening ke bos lu biar dia bisa bayar gaji lo - dan itu aman. Tapi jika lo pengen transfer duit lo ke orang lain, maka lo mesti masukkan nomor PIN sebelum bisa ditransfer. Kurang lebih cara kerja kunci publik dan kunci private di dompet Bitcoin tuh seperti itu.

Nah, kita bahas sistem teknisnya dikit (meskipun lo gak perlu tahu sih).

Kebanyakan mata uang kripto menggunakan metode kriptografi yang disebut Elliptic Curve Cryptography (ECC), berdasarkan matematika kurva eliptik, yang memungkinkan kunci publik dihitung dari satu kunci privat — tetapi gak sebaliknya. 

Meskipun kedua kunci terhubung secara matematis, kunci privat gak dapat dihitung dari kunci publik. Bitpanda 

Matematika yang terlibat sangat kompleks sehingga bahkan dengan semua komputer di dunia bekerja bersama, membobol kunci privat Bitcoin dengan cara brute force akan membutuhkan waktu lebih lama dari usia alam semesta saat ini.

Nah, di mana kunci-kunci ini disimpan? 

Di dalam dompet atau wallet

Tapi di sini banyak orang baru yang keliru: dompet Bitcoin gak "menyimpan" Bitcoin lo seperti dompet fisik menyimpan uang tunai. 

Bitcoin lo ada di blockchain — tercatat secara permanen, bisa dilihat publik. 

Yang disimpan dompet lo adalah kunci privat lo, yang merupakan bukti kepemilikan lo atas koin-koin yang tercatat di blockchain dengan alamat lo. 

Dalam buku Mastering Bitcoin karya Andreas Antonopoulos, kepemilikan Bitcoin ditetapkan melalui kunci digital, alamat Bitcoin, dan tanda tangan digital. 

Kunci digital gak disimpan di jaringan melainkan dibuat dan disimpan oleh pengguna dalam sebuah berkas atau basis data sederhana yang disebut dompet. 

Kunci-kunci ini memungkinkan banyak sifat menarik Bitcoin, termasuk kepercayaan dan kendali terdesentralisasi, serta model keamanan berbasis pembuktian kriptografis. O'Reilly

Ini membawa kita ke salah satu kalimat paling penting di seluruh dunia Bitcoin: Not your keys, not your coins — kalau bukan kunci lo, bukan koin lo.

Kalau lo menyimpan Bitcoin di sebuah exchange seperti Indodax, Tokocrypto, atau Binance, mereka yang menyimpan kunci privat lo atas nama lo. 

Lo mempercayai mereka sama seperti lo mempercayai bank. 

Dan kepercayaan itu bisa salah tempat. 

Pada 2022, bursa kripto FTX yang saat itu bernilai miliaran dolar kolaps dalam hitungan hari, dan dana pelanggan yang tersimpan di sana raib begitu saja. 

Kunci privat memberikan kemampuan untuk membuktikan kepemilikan dan membelanjakan dana yang terkait dengan alamat publik lo — dan sarannya tegas: jangan pernah membagikan kunci privat lo kepada siapapun. Gemini

Bitcoin memberi lo pilihan untuk menjadi bank lo sendiri. 

Apakah lo mengambil pilihan itu adalah urusan lo — tapi lo harus paham apa artinya sebelum memutuskan.


2.4 Mekanisme Proof-of-Work

Kita sudah menyinggung soal penambangan di Subbab 2.2, tapi kita melewati satu detail paling penting: apa sebenarnya "teka-teki matematika" yang harus dipecahkan para penambang itu? 

Jawabannya adalah mekanisme Proof-of-Work — dan memahaminya adalah kunci untuk memahami sekaligus keamanan Bitcoin maupun kontroversi terbesarnya: konsumsi energi.

Mari kita kembali ke proses penambangan. 

Ketika seorang penambang mengemas sekumpulan transaksi ke dalam kandidat blok, mereka harus menemukan sebuah angka khusus — disebut nonce — yang, ketika digabungkan dengan data blok dan dijalankan melalui fungsi hash Bitcoin (SHA-256), menghasilkan output yang dimulai dengan sejumlah angka nol tertentu. 

Dalam jaringan seperti Bitcoin, fungsi hash menjadi inti dari proses penambangan, yang melibatkan pencarian hash yang memenuhi kriteria spesifik — inilah yang disebut proof of work dalam praktiknya. Rejolut

Kenapa harus ada angka nol di depannya? 

Karena itu membuat teka-tekinya sangat sulit dipecahkan, tapi sangat mudah diverifikasi.

Menemukan nonce yang tepat mengharuskan penambang mencoba triliunan angka acak sampai ada yang cocok — murni coba-coba dengan kecepatan yang gak masuk akal. 

Tapi begitu seorang penambang mengumumkan solusinya, setiap node lain di jaringan bisa memverifikasi kebenarannya dalam sepersekian detik — cukup dengan menjalankan fungsi hash satu kali dan memeriksa hasilnya.

Ini gak simetris: sangat susah untuk dilakukan, sangat mudah untuk dicek. 

Dan asimetri itulah yang menjadi seluruh model keamanan Bitcoin.

"Pekerjaan" dalam Proof-of-Work adalah usaha komputasi nyata di dunia nyata — dan karena itu, energi nyata di dunia nyata — yang dihabiskan dalam memecahkan teka-teki matematika terebut. 

Ini bukan bug; ini adalah fitur yang disengaja. 

Pengeluaran energi itulah yang membuat serangan terhadap Bitcoin menjadi sangat mahal. 

Untuk menulis ulang riwayat transaksi Bitcoin, hacker harus mengulang semua pekerjaan komputasi untuk setiap blok yang ingin diubahnya, lebih cepat dari jaringan asli yang terus menambahkan blok baru di atasnya. 

Dengan skala jaringan Bitcoin saat ini, itu membutuhkan lebih banyak listrik dari yang dikonsumsi banyak negara dalam setahun. 

Jadi kalau ditanya apakah transaksi Bitcoin di dalam jaringan Blockchain itu aman dari serangan cyber, jawabannya iya.

Alasannya, menyerang blockchain harus punya modal super duper mahal.

Algoritma penambangan Bitcoin secara dinamis menyesuaikan tingkat kesulitannya kira-kira setiap dua minggu sekali sebagai respons terhadap perubahan kondisi hashrate

Jika hashrate jaringan turun, kesulitan teka-teki kriptografis berkurang dan perkiraan produksi Bitcoin per unit hashrate meningkat — dan sebaliknya. iShares 

Mekanisme penyesuaian diri ini adalah salah satu pencapaian rekayasa paling elegan dalam Bitcoin. 

Entah ada 10 penambang atau 10 juta penambang, jaringan secara otomatis menyetel ulang dirinya sendiri untuk mempertahankan ritme sepuluh menit yang stabil.

Ada satu hal lagi yang perlu lo pahami tentang Proof-of-Work

Metode ini bukan satu-satunya cara membangun blockchain. 

Ethereum, misalnya, beralih ke sistem berbeda yang disebut Proof-of-Stake pada 2022, yang menggunakan jauh lebih sedikit energi. 

Para kritikus berpendapat Bitcoin seharusnya melakukan hal yang sama. 

Para pendukung berpendapat bahwa pengeluaran energi justru adalah yang memberikan Bitcoin keamanan dan kredibilitas uniknya — bahwa gak ada makan siang bergizi gratis dalam keamanan, dan biaya untuk menyerang Bitcoin harus tetap sangat tinggi. 

Perdebatan ini akan kita bedah habis-habisan di Bab 11, karena ini adalah salah satu argumen terpenting dan paling belum tuntas dalam seluruh percakapan tentang Bitcoin.


2.5 Halving dan Batas 21 Juta Koin

Oke, sekarang lo sudah paham bagaimana transaksi Bitcoin dicatat, diverifikasi, dan diamankan. 

Tapi ada satu kepingan terakhir yang mungkin paling penting bagi siapapun yang mempertimbangkan Bitcoin sebagai investasi atau sebagai alternatif terhadap mata uang yang tergerus inflasi: 

Suplainya.

Berapa banyak Bitcoin yang akan pernah ada di dunia? 

Jawabannya tertulis langsung di dalam kode: 

21 juta keping. 

Tidak lebih, tidak kurang. 

Selamanya. 

Angka ini gak dikendalikan oleh siapapun — ia ditegakkan oleh matematika protokol, disetujui dan diverifikasi oleh setiap node tunggal di jaringan. 

Gak ada yang bisa mengubahnya tanpa meyakinkan seluruh jaringan global untuk menerima versi perangkat lunak baru — sesuatu yang terbukti hampir mustahil untuk perubahan yang mempengaruhi properti ekonomi inti Bitcoin.

Tapi Bitcoin baru gak muncul sekaligus. 

Ia dilepaskan secara bertahap, melalui penambangan, dengan laju yang berkurang seiring waktu melalui mekanisme yang disebut halving — pengurangan setengah. 

Perangkat lunak Bitcoin mengurangi setengah hadiah bagi para penambang setiap 210.000 blok — kira-kira setiap empat tahun sekali — yang memastikan total suplai gak akan pernah melampaui 21 juta koin. CoinLedger

Berikut adalah riwayat lengkap halving hingga saat ini:

Hadiah penambang yang berhasil memecahkan teka-teki matematika dimulai dari 50 Bitcoin. 

Setelah halving pertama pada November 2012, berkurang menjadi 25 Bitcoin. 

Halving kedua pada Juli 2016 memotongnya menjadi 12,5 Bitcoin. 

Halving ketiga pada Mei 2020 mengurangi hadiah menjadi 6,25 Bitcoin per blok. 

Halving terbaru terjadi pada 20 April 2024, yang selanjutnya mengurangi hadiah menjadi 3,125 Bitcoin per blok. CoinWarz 

Halving berikutnya diperkirakan terjadi sekitar April 2028, yang akan membawa hadiah turun ke 1,5625 Bitcoin.

Kode dasarnya memastikan hanya 21 juta Bitcoin yang akan pernah ada. 

Bitcoin didistribusikan melalui penambangan, dan 21 juta koin dijadwalkan untuk sepenuhnya ditambang pada tahun 2140. 

Hampir 90% dari total suplai Bitcoin sudah ditambang. CoinGecko 

Ini berarti era Bitcoin baru yang berlimpah sebagian besar sudah berakhir. 

Suplainya menjadi semakin langka sesuai rancangan.

Lalu apa yang terjadi setelah semua 21 juta koin habis ditambang dan tidak ada lagi hadiah blok? 

Satoshi sudah memikirkan ini juga. 

Setelah 2140, penambang akan mendapat kompensasi sepenuhnya dari biaya transaksi — dibayar oleh pengguna yang ingin transaksi mereka dimasukkan ke dalam blok berikutnya. 

Apakah pasar biaya ini akan cukup untuk menjaga keamanan jaringan jangka panjang adalah perdebatan yang terbuka dan sah di komunitas Bitcoin, yang akan semakin relevan seiring hadiah blok mendekati nol selama abad berikutnya.

Logika ekonomi di balik halving ini mudah dipahami dan sengaja dimodelkan setelah logika logam mulia. 

Emas berharga sebagian karena ia langka — hanya ada sejumlah tertentu di bumi, dan menambang lebih banyak semakin sulit dan mahal. 

Bitcoin mereplikasi kelangkaan ini secara matematis. 

Halving Bitcoin diperkenalkan oleh Satoshi Nakamoto untuk mengendalikan inflasi dan memastikan mata uang digital ini tetap menjadi aset deflasioner — dan halving pertama pada November 2012 menandai ujian pertama teori Nakamoto tentang pengendalian suplai uang dan ekonomi deflasioner. VanEck

Pola harga historis di sekitar setiap halving cukup mencolok dan menarik perhatian banyak investor. 

Setelah halving pertama, harga Bitcoin melesat dari $10,59 menjadi $126,24 dalam 180 hari. 

Setelah halving kedua pada 2016, Bitcoin mengalami kenaikan signifikan, memuncak di atas $1.000 dan meletakkan dasar bagi bull run 2017. 

Setelah halving ketiga pada 2020 yang terjadi di tengah pandemi Covid-19, harga Bitcoin naik stabil dan pada November 2021 memuncak di atas $67.000. VanEck

Pola ini memikat banyak orang — dan wajar. 

Tapi ada peringatan penting yang harus selalu disertakan: past performance is not a guarantee of future results

Dengan sekitar 94% dari semua Bitcoin yang sudah ditambang, penerbitan di masa depan hanya mewakili sebagian kecil dari suplai yang beredar, yang berpotensi mengurangi dampak halving dibandingkan peristiwa historis. iShares 

Semakin dewasa Bitcoin, semakin kompleks pasarnya, dan narasi sederhana tentang halving yang mendorong harga naik menjadi semakin gak bisa diandalkan begitu saja.

Kita akan membedah dimensi investasi dari semua ini secara menyeluruh di Bagian II. 

Tapi untuk sekarang, cukup pahami satu hal ini: 

Bitcoin adalah aset yang suplainya sudah ditentukan secara matematis, gak bisa dimanipulasi oleh siapapun, dan semakin langka setiap harinya. 

Bandingkan itu dengan Rupiah, Dolar, atau mata uang fiat manapun yang bisa dicetak kapan saja oleh bank sentral — dan lo mulai melihat kenapa banyak orang melihat Bitcoin sebagai sesuatu yang fundamentally berbeda.


2.6 Saatnya Recap

Oke, kita sudah melewati banyak hal di bab ini. 

Blockchain, node, penambangan, kunci publik dan privat, Proof-of-Work, halving, batas 21 juta koin. 

Gue yakin kepala lo sekarang penuh. 

Jadi sebelum kita tutup bab ini, mari gue satukan semuanya menjadi satu gambaran yang bersih dan utuh.

Bayangkan lo mau kirim Bitcoin ke teman lo.

Pertama, lo buka aplikasi dompet lo — bisa Metamask, Trust Wallet, atau aplikasi exchange seperti Indodax kalau lo pilih yang kustodian. 

Lo masukkan alamat Bitcoin teman lo dan jumlah yang mau dikirim. 

Lo tekan kirim.

Di balik layar, dompet lo menggunakan kunci privat lo untuk membuat tanda tangan digital yang membuktikan bahwa lo — dan hanya lo — yang mengotorisasi transaksi ini. 

Transaksi ini kemudian disiarkan ke jaringan, di mana ribuan node di seluruh dunia langsung memeriksanya: apakah lo benar-benar punya Bitcoin yang lo klaim mau kirim? Apakah tanda tangan digitalnya valid?

Kalau semua cek itu lolos, transaksi lo masuk ke mempool — kolam transaksi yang menunggu untuk diproses. 

Para penambang di seluruh dunia — mungkin di Texas, mungkin di Kazakhstan, mungkin di Papua New Guinea — mengambil transaksi lo bersama ratusan transaksi lain dan mengemasnya ke dalam sebuah kandidat blok.

Kemudian dimulailah perlombaan. 

Para penambang itu bersaing memecahkan teka-teki Proof-of-Work — mencoba triliunan kombinasi angka per detik sampai salah satu dari mereka menemukan solusi yang valid. 

Penambang pertama yang berhasil menyiarkan bloknya ke jaringan. 

Node-node lain memverifikasi solusinya dalam sepersekian detik, menerimanya, dan blok baru itu secara permanen ditambahkan ke blockchain — berisi transaksi lo di dalamnya.

Teman lo sekarang menerima Bitcoin. 

Tercatat secara permanen, gak bisa diubah, gak bisa dibatalkan, tanpa melibatkan satu bank pun.

Seluruh proses ini — dari lo menekan tombol kirim hingga konfirmasi pertama — biasanya memakan waktu sekitar sepuluh menit. 

Gak ada aplikasi persetujuan bank. 

Gak ada jam operasional. 

Gak ada biaya transfer antar negara yang mencekik. 

Gak ada pertanyaan "untuk apa transfer ini?" 

Gak ada kemungkinan rekening lo diblokir karena alasan yang gak lo mengerti.

Sistem ini dijaga bukan oleh kepercayaan kepada satu institusi, melainkan oleh matematika kriptografis, insentif ekonomi, dan kesepakatan kolektif dari ribuan peserta independen di seluruh dunia. 

Dalam arti yang paling harfiah, ini adalah mesin yang menjalankan dirinya sendiri.

Itulah yang membuat Bitcoin secara fundamental berbeda dari apapun yang pernah ada sebelumnya. 

Bukan hanya teknologinya — meskipun teknologinya luar biasa — tapi ide bahwa sistem keuangan bisa diatur oleh aturan-aturan yang transparan dan gak bisa diubah, bukan oleh institusi dan orang-orang yang menjalankannya.

Sekarang...

Apakah perbedaan itu benar-benar menghasilkan sesuatu yang berguna, berharga, dan adil di dunia nyata? 

Apakah Bitcoin benar-benar membebaskan orang, atau hanya menciptakan masalah baru yang berbeda? 

Apakah ini aset investasi yang sah, atau kasino digital berbalut idealisme?

Itulah pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab oleh sisa buku ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitocracy Bab 1: Kelahiran Bitcoin — Ketika Dunia Runtuh dan Seseorang Membangun Solusinya

1.1 Hari Ketika Sistem Memperlihatkan Wajah Aslinya Sebelum kita ngomongin Bitcoin, gue mau ngajak lo mundur dulu ke sebuah momen — momen di mana sistem keuangan dunia, yang selama ini lo percaya, tiba-tiba memperlihatkan wajah aslinya. 15 September 2008.  Hari itu, jutaan orang di seluruh dunia menyalakan TV mereka dan menyaksikan sesuatu yang gak pernah mereka bayangkan bakal terjadi: Lehman Brothers, salah satu bank investasi terbesar di Amerika Serikat dengan aset senilai $639 miliar, resmi mengajukan kebangkrutan.  Ini menjadi kebangkrutan korporasi terbesar dalam sejarah Amerika Serikat — dengan utang mencapai $613 miliar — yang memaksa ribuan karyawan kehilangan pekerjaan sekaligus menyeret perekonomian global yang sudah goyah ke dalam jurang yang jauh lebih dalam. NPR Kantor pusat Lehman Brothers di New York pada 15 September 2008, mengajukan permohonan kebangkrutan (Mark Lennihan/AP) Dalam hitungan jam, kepanikan menyebar ke seluruh penjuru dunia.  Kejatuhan ...