Langsung ke konten utama

Tiga Hari Hijau. Tapi Asing Masih Jual.

IHSG tutup kemarin di 7.092. Sudah tiga hari beruntun naik. Dan gue masih belum tahu harus senang atau skeptis.


Rabu kemarin IHSG tutup di 7.092 — naik 0,50% atau 35 poin. Tiga hari beruntun menguat. Tapi yang bikin gue berhenti sejenak pagi ini: Kontan melaporkan bahwa di balik penguatan itu, investor asing masih net sell Rp484 miliar di pasar reguler. Kemarin. Dan sehari sebelumnya, Rp318 miliar juga keluar.

Jadi siapa yang beli? Rupanya investor domestik — ritel dan institusi lokal — yang menopang. Itu bukan berita buruk, tapi juga bukan sinyal yang kuat bahwa situasi sudah benar-benar berubah.

IHSG 7.092 (+0,50%)
RUPIAH Rp17.387
S&P 500 7.259 (+0,81%)
WTI USD 93,2 (−8,86%)
YTD IHSG −17,98%

Yang paling menarik dari semalam: minyak ambruk

WTI turun hampir 9% ke USD 93,2 per barel. Brent turun 7,75%. Pemicunya: Trump bicara soal jeda operasi maritim AS di Selat Hormuz sebagai sinyal membuka ruang diplomasi dengan Iran. Dia juga menyebut akan membahas situasi Iran bareng Xi Jinping di pertemuan puncak 14–15 Mei mendatang.

"Pelaku pasar menilai ada sinyal dari Trump tentang kemajuan menuju potensi kesepakatan dengan Iran, serta jeda sementara dalam operasi maritim AS di Selat Hormuz." — dikutip dari Liputan6.com

Kalau minyak beneran melandai dari sini, ini sebenarnya kabar bagus buat Indonesia yang masih net importer energi. Tekanan neraca perdagangan bisa sedikit berkurang, dan rupiah punya ruang untuk menguat pelan-pelan. Tapi "jeda" bukan "selesai" — gue masih pantau ini.


Hari ini: prediksinya terbatas, data pentingnya besok

Gue baca beberapa analis pagi ini, nadanya hampir seragam: penguatan hari ini ada, tapi ruangnya sempit.

"Pergerakan IHSG berpotensi cenderung terbatas karena indeks mulai mendekati area resistance setelah fase rebound dalam beberapa hari terakhir." — Reza Diofanda, Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas, dikutip Kontan.co.id

Level yang jadi perhatian hari ini:

Support bawah6.920
Support atas7.000
Resistance 17.100
Resistance 27.160
Target breakout7.200

Kalender ekonomi hari ini relatif sepi — tidak ada rilis data besar. Pasar masih mencerna APBNKITA dari Menkeu Purbaya kemarin: pendapatan negara Q1 tumbuh 10%, defisit dijaga di bawah 3%, inflasi ditarget 2,4%. Angka-angka yang kedengarannya solid, tapi pasar butuh lebih dari sekadar angka untuk balik percaya.

Data yang benar-benar ditunggu: Cadangan Devisa April 2026 — rilis besok pagi (Jumat, 8 Mei) sekitar pukul 10.00 WIB. Maret kemarin angkanya USD 148,2 miliar. Naik atau turun dari situ akan jadi indikator penting soal seberapa keras BI harus bekerja menjaga rupiah selama April yang penuh gejolak itu.


Saham-saham yang masuk radar pagi ini

Ini yang gue lihat dari beberapa riset harian yang beredar. Bukan rekomendasi, hanya catatan gue sendiri soal apa yang banyak disebut.

Radar pagi · 7 Mei 2026
ASII, TOWR, CPIN
rekomendasi teknikal dari Kontan untuk Kamis ini
KOTA
disebut BRI Danareksa Sekuritas sebagai salah satu yang dicermati hari ini
BBCA, BMRI, BBRI
perbankan besar masih jadi penopang utama — tapi asing justru net sell di sini kemarin
MDKA, ANTM, ADRO
leaders YTD di LQ45 versi Kontan lewat analisis Helen Vincentia (Phillip Sekuritas)
ICBP, AMRT
consumer defensif — disebut Edwin Sebayang (Purwanto Asset Mgmt) sebagai sektor penopang di tengah volatilitas

Satu hal yang terus gue ingat pagi ini

Tiga hari hijau beruntun itu bagus secara teknikal. Tapi Kontan mencatat bahwa LQ45 masih turun 19,35% YTD, IDX80 turun 18,95%. IHSG sendiri minus 17,98%. Tiga hari hijau di tengah lubang sedalam itu lebih terasa seperti nafas sejenak, bukan balik arah.

"Masalah utamanya bukan sekadar rebalancing, tapi ada ketidakcocokan antara komposisi indeks dengan pemimpin pasar secara keseluruhan di tahun 2026." — Edwin Sebayang, Pengamat Pasar Modal & Direktur PT Purwanto Asset Management, dikutip Kontan.co.id

Yang gue tunggu beneran: sinyal dari MSCI (sekitar Juni), arah rupiah setelah cadangan devisa rilis besok, dan apakah Trump-Xi soal Iran pada 14–15 Mei menghasilkan sesuatu yang konkret atau cuma foto bersama.

Yang gue catat pagi ini
Minyak turun besar kemarin itu bisa jadi angin segar — tapi baru satu hari. Satu hari belum menjadi tren.
Net sell asing dua hari beruntun di tengah kenaikan IHSG itu kombinasi yang perlu diperhatikan. Siapa yang nanti kelelahan duluan?
Cadangan devisa besok lebih penting dari semua level teknikal yang disebut hari ini. Itu cermin kondisi rupiah selama April.
Pertemuan Trump-Xi soal Iran pada 14–15 Mei jadi tanggal yang gue tandai di kalender. Diplomasi bisa bergerak cepat — atau tidak sama sekali.
Ini catatan pribadi. Bukan analisis profesional, bukan saran apapun. Gue bisa salah. Data per 7 Mei 2026 pagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Hari Hijau. Hari Ini Devisa Bicara.

Catatan pagi Jumat, 8 Mei 2026 Pre-market IHSG kemarin tembus 7.174. Reli empat hari beruntun. Tapi pagi ini indeks langsung berbalik turun begitu buka — dan satu data penting rilis hari ini yang bisa mengubah segalanya. Kemarin IHSG tutup di 7.174,32 — naik 1,15%. Empat hari hijau berturut-turut. Menyentuh intraday high 7.207 sebelum akhirnya pullback. Sektor kesehatan memimpin (+2,01%), diikuti keuangan (+1,98%) dan properti (+1,32%). PANI, BBRI, dan BBCA jadi motor utama. Tapi pagi ini ceritanya berbeda. DataIndonesia.id melaporkan IHSG dibuka menguat ke 7.182, lalu berbalik turun ke 7.164 di menit-menit awal. Rupiah pagi ini juga melemah. Pasar tampak menahan diri — semua mata tertuju ke satu angka yang rilis hari ini pukul 10.00 WIB. IHSG KEMARIN 7.174 (+1,15%) IHSG PAGI INI 7.164 (berbalik) WTI USD 93,2 YTD IHSG −16,98% BI RATE 4,75% Satu data yang jadi pusat gravitasi hari ini Cadang...

$80.000 Akhirnya Jebol — Gara-gara "Project Freedom" Trump di Selat Hormuz

5 Mei 2026, 08:00 WIB Semalam terjadi sesuatu yang sudah empat kali gagal terjadi selama dua bulan terakhir. Bitcoin akhirnya menembus $80.000. Tepatnya dini hari tadi ketika sesi perdagangan Asia di Singapura dibuka, Bitcoin menyentuh $80.529 — level tertinggi sejak 31 Januari. Setelah berbulan-bulan dihadang di angka itu, tembok $80.000 akhirnya jebol juga. ( 24/7 Wall St. ) Dan katalisnya bukan laporan Strategy, bukan CLARITY Act, bukan data ETF — melainkan pengumuman militer dari Gedung Putih bernama "Project Freedom." Apa Itu "Project Freedom"? Kemarin malam, Trump mengumumkan operasi militer Amerika bernama "Project Freedom" — sebuah misi untuk mengawal kapal-kapal dagang yang terjebak di Selat Hormuz agar bisa melintas dengan aman mulai Senin pagi waktu Timur Tengah. ( 24/7 Wall St. ) Ini bukan perjanjian damai. Tapi ini adalah tanda bahwa jalur perdagangan minyak dunia yang selama dua bulan terakhir tersumbat akan mulai terbuka kem...

Bitocracy Bab 14: Disinformasi, Media, dan Manipulasi Pasar — Jangan Percaya Begitu Saja

14.1 Bagaimana Narasi Media Menggerakkan Harga Bitcoin Ada sebuah eksperimen sederhana yang bisa lo coba sendiri. Buka Google Berita, ketik "Bitcoin", lalu perhatikan judulnya.  Kalau harga lagi naik, judulnya berbunyi: "Bitcoin Meroket, Saatnya Masuk Pasar?"   Kalau harga lagi turun, judulnya berbunyi: "Bitcoin Ambruk, Investor Panik Besar-Besaran."   Kalau harga lagi stagnan, judulnya berbunyi: "Bitcoin Menunggu Katalis, Ke Mana Arah Selanjutnya?" Gak ada yang benar-benar memberitahu lo sesuatu yang berguna.  Tapi semuanya berhasil membuat lo merasa harus melakukan sesuatu. Pergerakan harga aset kripto sangat dipengaruhi oleh sentimen pasar, berita, dan narasi yang berkembang.  Setiap kali ada berita positif — adopsi perusahaan besar, kemajuan teknologi, regulasi yang menguntungkan — harga bisa melonjak karena kepercayaan investor ikut naik.  Sebaliknya, berita negatif seperti peretasan, penipuan, atau larangan regulasi bisa memicu penuruna...